Endometritis

Endometritis

Mordibilitas pascapartum akibat demam atau febris didefiniskan sebagai kondisi ketika suhu lebih dari 38°C atau lebih tinggi pada hari ke-2 hingga hari ke-10 pasca persalinan (Bowes, 1996). Diperkirakan 2% pasien yang mengalami persalinan pervaginam dan 10-15% yang mengalami persaslinan caesar menderita endometritis yang biasanya disebabkan oleh infeksi asenden dari saluran genitalia bawah.

1.  Pengertian

1)    Endometritis adalah infeksi pada endometrium (lapisan dari rahim). Infeksi ini dapat terjadi sebagai kelanjutan infeksi pada serviks atau infeksi tersendiri dan terdapat benda asing dalam rahim. (Manuaba)

2)    Endometritis adalah infeksi endometrium, desidua, dan miometrium uterus setelah pelahiran. (obstetri williams)

3)    Endometritis adalah suatu peradangan endometrium yang biasanya disebabkan oleh infeksi bakteri pada jaringan. (Kapita Selekta)

 

2.  Faktor Risiko Endometritis

Faktor risiko endometritis meliputi ruptur membran yang lama, persalinan yang memanjang, pemeriksaan dalam, persalinan dengan pembedahan, atau dengan alat bantu yang lainnya, preeklampsia, retensi bagian plasenta yang tertinggal, perdarahan, pascapartum dan anemia.

3.  Patofisiologi

Bakteri yang sering menyebabkan infeksi genitalia wanita pascapartum

 

Aerob

          Streptokokus grup A, B, dan D

          Enterokokus

          Bakteri gram-negatif-Escheichia coli, Klebsiella, dan spesies Proteus

          Staphylococcus aureus

          Gardnerella vaginalis

Anaerob

          Spesies peptokokus

          Spesies peptosteptokokus

          Golongan Bacteroides fragilis

          Spesies klostridium

          Spesies fusobakterium

          Spesies Mobiluncus

Lain-lain

          Spesies Mycoplasma

          Chlamydia trachomatis

          Neisseria gonorrhoeae

Sumber: Data dari American College of Obstetricians and Gynecologists: Antimicrobial therapy for obstetric patiens. Educational Bulletin No. 245, Maret 1998.

Organismee ini secara normal mengkoloni serviks, vagina, perineum, dan saluran cerna. Meskipun virulensinya rendah, namun berbagai bakteri ini menjadi patogenik jika terdapat jaringan yang mengalami devitalisasi dan hematom yang pasti ada dalam persalinan. Infeksi pascapartum bersifat polimikroba (biasanya dua hingga spesies) dan terjadi di tempat insisi atau implantasi plasenta.

Rahim merupakan organ yang steril sedangkan di vagina terdapat banyak mikroorganismee oportunistik. Mikroorganisme dari vagina ini dapat secara asenden masuk ke rahim terutama pada saat perkawinan atau melahirkan. Bila jumlah mikroorganismee terlalu banyak dan kondisi rahim mengalami gangguan maka dapat terjadi endometritis. Kejadian endometritis kemungkinan besar terjadi pada saat kawin suntik atau penanganan kelahiran yang kurang higienis, sehingga banyak bakteri yang masuk.

 

4.    Diagnosis

Gejala endometritis antara lain; demam dan kedinginan, malaise dan nyeri abdomen. Tandanya meliputi demam, uterus lunak, rabas vagina yang purulen, dan lokia rubra yang parah. Jika terdapat organisme anaerob dan bentuk coli, lokia akan berbau tidak sedap. Infeksi disebabkan oleh Streptokokus beta-hemolitik, lokia tidak berbau dan sedikit. Subinvolusi hampir selalu dihubungkan dengan endometritis.

 

5.    Manajemen Kebidanan

 Subjektif

1)    Klien mengeluh nyeri perut dan punggung bagian bawah

2)    Peningkatan suhu postpartum yang sebelumnya didahului oleh perubahan konstitusional (malaise, anorexia, myalgia, diaphoresis, atau menggigil)

3)    Klien mengeluh adanya :

  • Pengeluaran lochea yang banyak dan berbau busuk
  • konstipasi
  • Klien menyangkal adanya disuria, poliuria atau nyeri panggul.

Objektif

1)    Suhu >38°C, 2 hari pertama dalam 10 hari postpartum, tidak termasuk 24 jam pertama.

2)    Peningkatan nadi atau nadi normal

3)    Observasi diaporesis/menggigil jika terjadi infeksi virulent

4)    Nyeri pada perut atau mungkin tegang

5)    Pengeluaran yang abnormal mungkin terlihat di genitalia external, rongga vagina dan serviks.

Catatan: mungkin hanya sedikit, bau lochea mungkin tercium (akibat adanya infeksi beta-hemolytic streptokokus)

6)    Nyeri /kontraksi di uterus/adnexa atau mungkin uterus yang lembek dan/atau subinvolusi ketika dilakukan pemeriksaan bimanual

7)    Ruam otot dan hipotensi (menandakan adanya postpartum toxic  shock syndrom [TSS])

8)    Kelumpuhan ileus mungkin sering terjadi ( tanda timbulnya distensi abdomen, bising usus yang lemah dan konstipasi)

9)    Sebaliknya pemeriksaan fisik dinyatakan negatif untuk tanda infeksi lokal atau penyakit sistemik

10) Penghitungan darah komplit (CBC) mungkin menunjukan adanya leukositosis

Catatan: Leukositosis mungkin muncul (penghitungan sel darah putih sampai dengan 20.000 m3) tanpa adanya infeksi selama periode postpartum yang normal. (Faro, 1990).

11) Urin dipstick negatif untuk ester leukosit, nitrit; dibutuhkan kateterisasi untuk mengambil sampel lochea.

Analisa

Postpartum endometritis, dini atau lanjut

Diagnosa banding

1)    Cystitis

2)    Pyelonefritis

3)    Mastitis

4)    Pembengkakan payudara (engorgement) yang berat

5)    Appendisitis

6)    Infeksi luka seksio sesarean

7)    Septic pelvic Thrombophlebitis

8)    Abses pada pelvik

9)    Toxic shock syndrome (TSS)

10) Ileus paralitik

11) Komplikasi pada sistem respirasi, pulmonary atelectasis

12) Thrombophlebitis pada ekstremitas bawah

Perencanaan

1)  Lakukan pemeriksaan spekulum steril

  1. Observasi ciri dan bau lokia
  2. Dapatkan kultur serviks bila perlu dan singkirkan dugaan IMS

2)  Lakukan pemeriksaan bimanual steril

  1. Kaji uterus untuk memeriksa adanya nyeri tekan yang tidak biasa
  2. Kaji uterus untuk mengetahui adanya penonjolan

3)  Lakukan analisa darah lengkap bila terjadi demam

4)  Antibiotika dan drainase yang memadai merupakan pojok sasaran terapi. Evaluasi klinis dan organisme yang terlihat pada pewarnaan gram, seperti juga pengetahuan bakteri yang diisolasi dari infeksi serupa sebelumnya, memberikan petunjuk untuk terapi antibiotic.

  • Chepalexin 500 mg peroral 4 kali sehari selama 7 sampai 10 hari
  • Ampisilin 500 mg peroral 4 kali ssehari selama 7 sampai 10 hari
  • Doksisiklin 100 mg peroral 4 kali sehari 7 sampai hari
  • CATATAN: Penggunaan doycycline pada wanita menyusui adalah kontroversial, namun harus mendapat perhatian lebih.
  • Eritromisin 500 mg peroral 4 kali sehari selama 7 sampai 10 hari
  • Klindamisin 450 mg peroral 4 kali sehari selama 7 sampai 10 hari

5)  Carian intravena dan elektrolit

Merupakan terapi pengganti untuk dehidrasi dan terapi pemeliharaan untuk pasien-pasien yang tidak mampu mentoleransi makanan lewat mulut. Secepat mungkin pasien diberikan diet peroral untuk memberikan nutrisi yang memadai.

6)  Penggantian darah

Dapat diindikasikan untuk anemia berat post abortus atau postpartum.

7)  Tirah baring dan analgesia

Merupakan terapi pendukung yang banyak manfaatnya.

8)  Tindakan bedah

Endometritis postpartum sering disertai dengan jaringan plasenta yang tertahan atau obstruksi servik. Drainase lokia yang memadai sangat penting. Jaringan plasenta yang tertinggal dikeluarkan dengan kuretase perlahan dan hati-hati.

Tindak lanjut

1)    Jika gejala memburuk atau gagal untuk merespon, segera nilai kembali.

2)    Jika respon gejala  yang memadai dan kepatuhan pasien yang baik, menilai kembali dalam 48 sampai 72 jam.

3)    mendokumentasikan diagnosis dan pengobatan endometritis dalam catatan kemajuan dan daftar masalah.