Perubahan Fisiologis Nifas

 Sistem Kadiovaskuler

Kebanyakan perubahan dari sistem kardiovaskuler yang disebabkan oleh kehamilan tidak terlihat lagi pada minggu kedua setelah melahirkan. Dalam beberapa hari setelah melahirkan, tekanan darah, kecepatan denyut nadi, kebutuhan oksigen dan jumlah cairan tubuh pada umumnya kembali ke keadaan awal yaitu keadaan sebelum hamil. Sedangkan perubahan-perubahan yang lainnya diperlukan beberapa minggu untuk kembali pada keadaan sebelum hamil

  • Tekanan Darah

Selama kehamilan, volume darah meningkat 40% atau sekitar 1000 ml dengan volume total dari 5 liter menjadi 6 liter. Perubahan volume darah setelah melahirkan disebabkan oleh perdarahan dan diuresis setelah melahirkan. Rata-rata darah yang keluar pada saat melahirkan per vagina secara normal adalah 400 ml – 500 ml, sedangkan apabila dengan sectio cesearean darah yang keluar lebih dari 1000 ml. Perubahan fisiologis setelah melahirkan memediasi respon terhadap perdarahan. Hilangnya fungsi endokrin dari placenta mengurangi vasodilatasi

Perubahan volume darah setelah melahirkan terlihat sangat cepat. Ada peningkatan sementara antara 15% – 30%. Peningkatan volume darah yang bersirkulasi antara 12 – 48 jam setelah melahirkan dikarenakan perpindahan cairan ekstravaskular dan terjadinya diuresis. Hal ini menyebabkan efek hemodilusional dengan penurunan hematokrit dan peningkatan cardiac output. Pada hari ketiga setelah melahirkan, volume darah menurun 16% dari saat hamil. Volume darah total berkurang seperti sebelum hamil yaitu 4 liter pada saat minggu ke-4 setelah melahirkan

  • Cardiac output

Cardiac output yang meningkat selama melahirkan, mencapai puncaknya sesaat setelah pemisahan placenta yang sejalan dengan kontraksi uterus yang memerlukan volume darah yang besar untuk bersirkulasi. Stroke volume yang meningkat pada saat kehamilan masih tetap berlanjut sampai kira-kira 48 jam setelah melahirkan sebagai akibat dari peningkatan darah balik yang diakibatkan oleh kehilangan sirkulasi placenta dan pengurangan aliran darah ke uterus. Dengan adanya diuresis setelah melahirkan menyebabkan peningkatan sementara cardiac output kira-kira 35 % pada masa awal setelah melahirkan.

Dalam dua minggu setelah melahirkan, cardiac output menurun kira-kira 30%. Pengurangan volume darah terlihat bertahap pada minggu ke-2 sampai minggu ke-4 setelah melahirkan. Hal ini menyebabkan cardiac output kembali normal yaitu saat tidak hamil, kira-kira pada saat minggu ke-3 setelah melahirkan.

Perubahan Tanda-tanda Vital

  •  Suhu

Secara umum, suhu ibu selama nifas meningkat hingga , atau meningkat kurang lebih 0,5 derajat Celcius dari keadaan normal sebagai suatu akibat dari dehidrasi persalinan. Setiap ibu yang suhunya melebihi batas ini dalam dua periode 24-jam dari peurperium tersebut (excludein postpartum 24 jam pertama) dianggap demam.

Kadang-kadang, puncak demam selama beberapa jam muncul lagi pada hari kurang lebih ke-4 post partum dapat disebabkan oleh pembengkakan payudara karena , pembengkakan payudara akibat adanya pembentukan ASI tetapi hal ini tidak berlangsung lebih lama dari 12 jam.

Dalam menilai pentingnya kenaikan tempratur, denyut nadi adalah panduan asuhan karena denyut nadi lambat dan tempratur sedikit lebih tinggi mungkin menandakan sebuah kompliksi.

  • Denyut Nadi

Setelah melahirkan, sering ada bradikardi fisiologis sementara, yang berlangsung 24 sampai 48 jam, dengan denyut nadi 40 sampai 50 denyut per menit. Ini hasil dari perubahan hemodinamik, termasuk volume stroke dan output jantung meningkat, serta respon vagal untuk aktivitas sistem saraf simpatik meningkat selama persalinan. Bradikardi ringan 50 sampai 70 kali per menit dapat terus terjadi selama sekitar satu minggu. Denyut nadi kembali ke level normal yaitu sebelum kehamilan kira-kira 3 bulan setelah melahirkan.

  • Tekanan darah.

Tekanan darah adalah tekanan yang dialami darah pada pembuluh arteri ketika darah dipompa oleh jantung ke seluruh anggota tubuh manusia. Tekanan darah normal manusia adalah sistolik antara 90-120 mmHg dan diastolik 60-80 mmHg. Pasca melahirkan pada kasus normal, tekanan darah biasanya tidak berubah.  Hipotensi ortostatik, dapat berkembang dalam 40 jam pertama sebagai suatu akibat gangguan pada daerah persarafan yang mungkin terjadi setelah persalinan. Perubahan tekanan darah menjadi lebih rendah pasca melahirkan dapat diakibatkan oleh perdarahan. Sedangkan tekanan darah tinggi pada saat setelah melahirkan merupakan tanda terjadinya pre eklamsia post partum. Namun demikian, hal tersebut sangat jarang terjadi.

  •  Pernafasan

Perubahan pada tekanan perut dan kapasitas isi rongga dada setelah persalinan mempengaruhi fungsi paru. Perubahan tersebut meliputi peningkatan volume residu, resting ventilation, dan kebutuhan oksigen serta adanya penurunan dalam kapasitas inspirasi. Namun setelah 6 bulan postpartum, fungsi paru akan kembali ke keadaan sebelum hamil.

Selama persalinan dan periode awal post-partum terjadi perubahan keseimbangan asam-basa. Progesteron selama kehamilan menyebabkan hiperventilasi pada tingkat alveolar, hal itu dapat meningkatkan saturasi oksigen tanpa mengubah tingkat pernapasan. Kehamilan ditandai dengan alkalosis pernapasan (disebabkan oleh konsentrasi karbon dioksida menurun pada alveoli) dan kompensasi asidosis metabolik. Hal-hal tersebut mulai berubah dengan meningkatnya laktat darah, penurunan pH, dan hipokapnia (<30 mmHg) menjelang akhir tahap pertama selama persalinan. Kondisi ini terus berlangsung sampai tahap awal kala 4 persalinan, tetapi nilai-nilai kehamilan lebih normal non (P CO2 35-40 mmHg) muncul dalam beberapa hari. Penurunan progesteron pada tahap ini mengakibatkan hypercapnia postpartum, yang disertai dengan kelebihan basa tinggi dan bikarbonat plasma. Secara bertahap, pH dan meningkatkan kelebihan dasar sampai mencapai nilai normal, sekitar 3 minggu setelah melahirkan. Tingkat metabolisme dasar tetap meningkat selama 1 sampai 2 minggu setelah persalinan.

Saturasi Oksigen dan Po2 lebih tinggi selama kehamilan dibandingkan pada wanita yang tidak hamil. Selama persalinan wanita mungkin mengalami penurunan saturasi oksigen, terutama saat terlentang. Hal ini mungkin akibat penurunan output di jantung dalam posisi tersebut. Saturasi oksigen naik secara cepat setelah melahirkan, sampai 95% pada hari pertama post-partum. Peningkatan kebutuhan oksigen dalam periode post-partum mungkin terjadi, tampaknya berhubungan dengan panjang dan kesulitan dari tenaga kerja tahap kedua. Ada peningkatan konsumsi oksigen selama waktu istirahat, yang juga dapat dipengaruhi oleh laktasi, anemia, dan faktor-faktor emosional dan psikologis.

Endokrin

Selama proses kehamilan dan persalinan terdapat perubahan pada sistem endokrin. Hormon-hormon yang berperan pada proses tersebut, antara lain:

1.             Hormon plasenta.

2.              Hormon pituitary.

3.              Hipotalamik pituitary ovarium.

4.              Hormon oksitosin.

5.              Hormon estrogen dan progesteron.

  • Hormon plasenta.

Pengeluaran plasenta menyebabkan penurunan hormon yang diproduksi oleh plasenta. Hormon plasenta menurun dengan cepat pasca persalinan. Penurunan hormon plasenta (human placental lactogen) menyebabkan kadar gula darah menurun pada masa nifas. Human Chorionic Gonadotropin (HCG) menurun dengan cepat dan menetap sampai 10% dalam 3 jam hingga hari ke-7 post partum dan sebagai onset pemenuhan mamae pada hari ke-3 post partum

  • Hormon pituitary.

Hormon pituitary antara lain: hormon prolaktin, FSH dan LH. Hormon prolaktin darah meningkat dengan cepat, pada wanita yang tidak menyusui menurun dalam waktu 2 minggu. Hormon prolaktin berperan dalam pembesaran payudara untuk merangsang produksi susu. FSH dan LH meningkat pada fase konsentrasi folikuler pada minggu ke-3, dan LH tetap rendah hingga ovulasi terjadi.

  • Hipotalamik pituitary ovarium.

Hipotalamik pituitary ovarium akan mempengaruhi lamanya mendapatkan menstruasi pada wanita yang menyusui maupun yang tidak menyusui. Pada wanita manyusui mendapatkan menstruasi pada 6 minggu pasca melahirkan berkisar 16% dan 45% setelah 12 minggu pasca melahirkan. Sedangkan pada wanita yang tidak menyusui, akan mendapatkan menstruasi berkisar 40% setelah 6 minggu pasca melahirkan dan 90% setelah 24 minggu.

  • Hormon oksitosin.

Hormon oksitosin disekresikan dari kelenjar otak bagian belakang, bekerja terhadap otot uterus dan jaringan payudara. Selama tahap ketiga persalinan, hormon oksitosin berperan dalam pelepasan plasenta dan mempertahankan kontraksi, sehingga mencegah perdarahan. Isapan bayi dapat merangsang produksi ASI dan sekresi oksitosin, sehingga dapat membantu involusi uteri.

  • Hormon estrogen dan progesteron.

Volume darah normal selama kehamilan, akan meningkat. Hormon estrogen yang tinggi memperbesar hormon anti diuretik yang dapat meningkatkan volume darah. Sedangkan hormon progesteron mempengaruhi otot halus yang mengurangi perangsangan dan peningkatan pembuluh darah. Hal ini mempengaruhi saluran kemih, ginjal, usus, dinding vena, dasar panggul, perineum dan vulva serta vagina.

Hematologi

Pada minggu-minggu terakhir kehamilan, kadar fibrinogen dan plasma serta faktor-faktor pembekuan darah meningkat. Pada hari pertama post partum, kadar fibrinogen dan plasma akan sedikit menurun tetapi darah lebih mengental dengan peningkatan viskositas sehingga meningkatkan faktor pembekuan darah.

Pada awal post partum, jumlah hemoglobin, hematokrit dan eritrosit sangat bervariasi. Hal ini disebabkan volume darah, volume plasenta dan tingkat volume darah yang berubah-ubah. Tingkatan ini dipengaruhi oleh status gizi dan hidarasi dari wanita tersebut. Jika hematokrit pada hari pertama atau kedua lebih rendah dari titik 2 persen atau lebih tinggi daripada saat memasuki persalinan awal, maka pasien dianggap telah kehilangan darah yang cukup banyak. Titik 2 persen kurang lebih sama dengan kehilangan darah 500 ml darah.

Penurunan volume dan peningkatan sel darah pada kehamilan diasosiasikan dengan peningkatan hematokrit dan hemoglobin pada hari ke 3-7 post partum dan akan normal dalam 4-5 minggu post partum.

Jumlah kehilangan darah selama masa persalinan kurang lebih 200-500 ml, minggu pertama post partum berkisar 500-800 ml dan selama sisa masa nifas berkisar 500 ml.

  • Konstituen darah

Hemodilusi yang disebabkan oleh perpindahan cairan interstisisal. Hematokrit meningkat dalam 3 – 7 hari yang disebabkan oleh hemokonsentrasi yang menyertai diuresis dengan volume plasma yang hilang lebih besar daripada sel darah yang hilang. Peningkatan jumlah sel darah merah selama kehamilan juga berkontribusi terhadap meningkatnya hematokrit. Tidak ada penghancuran sel darah merah selama masa post-partum. Tetapi jumlah sel darah merah berkurang secara bertahap  kembali ke level normal, sejalan dengan sel darah merah yang meningkat selama kehamilan dan telah berakhir masa hidupnya. Jumlah hematokrit kembali normal pada minggu ke-4 ata ke-5 setelah melahirkan.

Sel darah putih pada saat kehamilan biasanya meningkat sampai dengan 12.000 sel/mm3. Terjadi peningkatan leukosit pada 10 – 12 hari setelah melahirkan dengan jumlah 20.000 – 30.000 sel/mm3. Jenis leukosit yang meningkat yaitu netrofil dan eosinofil, sedangkan lymphosit menurun. Perubahan jumlah sel darah putih juga merupakan ciri khas dari infeksi dan bersama dengan peningkatan kecepatan sedimentasi eritrosit yang khas setelah melahirkan membuat infeksi post-partum susah untuk dideteksi.

Leukositosis adalah meningkatnya jumlah sel-sel darah putih sebanyak 15.000 selama persalinan. Jumlah leukosit akan tetap tinggi selama beberapa hari pertama masa post partum. Jumlah sel darah putih akan tetap bisa naik lagi sampai 25.000 hingga 30.000 tanpa adanya kondisi patologis jika wanita tersebut mengalami persalinan lama.

  • Faktor koagulasi

Peningkatan faktor koagulasi yang muncul selama kehamilan masih tetap berlanjut sampai periode post-partum. Faktor pembekuan I, II, VIII, IX dan X lebih diaktifkan setelah melahirkan dan akan menurun beberapa hari setelah melahirkan sampai seperti saat hamil, tetapi fibrinogen dan tromboplastin tetap sampai tiga minggu setelah melahirkan. Faktor pembekuan ini dapat berinteraksi secara sepsis atau trauma yang mempengaruhi tromboembolisme pada wanita setelah melahirkan.

  • Konstituen darah lainnya.

Efek dari kadar estrogen yang tinggi selama kehamilan atau sintesis protein dan sintesis lemak yang tinggi menyebabkan peningkatan produksi asam lemak, kolesterol, trigliserida, lipoprotein dan faktor pembekuan. Konstituen-konstituen ini kempali ke keadaan pada saat hamil dari 2 – 3 minggu setelah melahirkan. Elektrolit-elektrolit berubah setelah kehamilan, dengankeseimbangan Cl dihasilkan dari ekskresi yang cepat pada cairan ekstraseluler, selama diuresis Na meningkat di dalam plasma sebagian dikarenakan penurunan hormon steroid, sebagian lagi karena kehilangan air dalam jumlah yang besar. Peningkatan pottasium mungkin dikarenakan katabolisme jaringan selama involusi. Perubahan ini kembali normal sekitar dua minggu setelah melahirkan.

Sumber:

Koniak, Reeder Martin. Maternity Nursing. London: J.B Lippincott Company.

McCall, Seller Pauline.1993.Midwifery.South Afrika: Juta&Co, Ltd.

Coad, Jane dkk. 2001.Anatomy and Physiology for Midwives.. London: Mosby

Varley, Helen dkk. 2007.Buku Ajar Asuhan Kebidanan Edisi IV volume 2..Jakarta: EGC.

www.lusa.web/perubahanfisiologisistemendokrin

1 Comment

  1. Ping balik: PERUBAHAN FISIOLOGIS NIFAS | indahniendyy

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s