Mola Hidatidosa

 

Mola Hidatidosa

Definisi

Mola hidatidosa adalah suatu kehamilan yang berkembang tidak wajar dimana tidak ditemukan janin dan hampir seluruh vili korialis mengalami perubahan berupa degenerasi hidropik. Secara makroskopik, mola hidatidosa mudah dikenal yaitu gelembung-gelembung putih, tembus pandang, berisi cairan jernih dengan ukuran bervariasi dari beberapa milimeter sampai 1 atau 2 cm (Sarwono Prawirohardjo, 2009).

Mola hidatidosa adalah perubahan abnormal pada vili korionik menjadi sejumlah kista yang menyerupai anggur yang dipenuhi dengan cairan. Embrio mati dan tumbuh dengan cepat, memperbesar uretra dan menghasilkan sejumlah besar human chorionik gonadotropin (hCG) (Persis Mary Hamilton, Dasar-dasar Keperawatan Maternitas).

Mola hidatidiformis adalah marformasi besar yang terjadi pada trofoblas ketika vili korionik berpoliferasi menjadi avaskular (Diane M. Fraser,Buku Ajar Bidan).

Insiden mola hidatidiformis di Inggris adalah 1,54 pada 1000 kehamilan (RCOG 1999b). Risiko meningkat sampai 1 banding 76 jika sebelumnya ibu sudah pernah mengalami kehamilan molar (Newsland et al 2001). Usia maternal merupakan faktor risiko yang konsisten. Peningkatan risiko terjadi pada wanita kurang dari 20 tahun dan lebih 40 tahun, dan juga pada wanita Asia (Bagshawe et al 1986, Newlands et al 2001). Kondisi ini dapat menyebabkan terjadinya kanker sehingga diagnosis yang akurat, pengobatan, dan perawatan tindak lanjut merupakan hal yang sangat penting.

Terdapat dua bentuk mola yang diidentifikasi yang salah satunya meningkatkan risiko ibu terhadap kariokarsinoma (Lewler et al 1991).

1.     Mola hidatidiformis komplet

Pada mola jenis ini, tidak terdapat adanya tanda-tanda embrio, tali pusat atau membran. Kematian terjadi sebelum berkembangnya sirkulasi plasenta (Szulman 1988). Vili korionik berubah menjadi vesikel hidropik yang jernih yang menggantung bergerombol pada pedikulus kecil, dan memberi tampilan seperti seikat anggur. Ukuran vesikel bevariasi, dari yang sulit dilihat sampai yang berdiameter beberapa sentimeter. Hiperplasia menyerang lapisan sinsitiotrofoblas dan sitotrofoblas. Masa mengisi rongga uterus dan dapat cukup besar untuk menyerupai kehamilan.

Pada kehamilan normal, trofoblas meluruhkan desidua untuk menambatkan hasil konsepsi. Hal ini berarti bahwa mola yang sedang berkembang dapat berpenetrasi ke tempat implantasi. Miometrium dapat terlibat, begitu pula dengan vena walaupun jarang terjadi. Ruptur uterus dengan perdarahan masif merupakan salah satu akibat yang dapat terjadi.

Mola komplet biasanya memiliki 46 kromosom yang hanya berasal dari pihak ayah (paternal). Sperma haploid memfertiisasi telur yang kosong yang tidak mengandung kromosom maternal (Lawler et al 1991). Kromosom paternal berduplikasi sendiri. Koriokarsinoma dapat terjadi dari mola jenis ini (Newlands et al 2001).

2.     Mola parsial

Tanda-tanda adanya suatu embrio, kantong janin atau kantong amnion dapat ditemukan karena kematian terjadi sekitar minggu ke-8 atau ke-9. Hiperplasia trofoblas hanya terjadi pada lapisan sinsitotrofoblas tunggal dan tidak menyebar luas dibandingkan mola komplet. Analisis kromosom biasanya akan menunjukkan adanya triploid dengan 69 kromosom, yaitu tiga set kromosom: satu maternal dan dua paternal. Secara histologist, membedakan mola parsial dan keguguran laten merupakan hal yang sulit dilakukan. Hal ini memiliki signifikansi klinis karena walaupun risiko ibu untuk mnderita koriokarsionoma dari mola parsial hanya sedikit, tetapi pemeriksaan tindak lanjut tetap menjadi hal yang sangat penting (RCOG 199b).

Etiologi

Penyebab mola hidatidosa tidak diketahui secara pasti, namun faktor penyebabnya adalah

  1. Faktor ovum : ovum memang sudah patologik sehingga mati, tetapi terlambat dikeluarkan
  2. Imunoselektif dari trofoblast
  3. Keadaan sosio ekonomi yang rendah
  4. Paritas tinggi
  5. Kekurangan protein
  6. Infeksi virus dan faktor kromosom yang belum jelas

(Mochtar, Rustam, 1998 : 238)

Patofisiologi

Mola hidatidosa dapat terbagi menjadi:

  1. Mola hidatidosa komplet (kalsik) jika tidak ditemukan janin
  2. Mola hidatidosa inkomplet (parsial), jika disertai janin atau bagian janin.

            Ada beberapa teori yang diajukan untuk menerangkan patogenesis dari penyakit trofoblast:

  1. Teori missed abortion : Mudigah mati pada kehamilan 3-5 minggu karena itu terjadi gangguan peredaran darah sehingga terjadi penimbunan cairan masenkim dari vili dan akhirnya terbentuklah gelembung-gelembung.
  2. Teorineoplasma dari Park sel-sel trofoblast adalah abnormal dan memilki fungsi yang abnormal dimana terjadi reabsorpsi cairan yang berlebihan ke dalam vili sehingga timbul gelembung.

Studi dari Hertig lebih menegaskan lagi bahwa mola hidatidosa semata-mata akibat akumulasi cairan yang menyertai degenerasi awal atau tiak adanya embrio komplit pada minggu ke tiga dan ke lima. Adanya sirkulasi maternal yang terus menerus dan tidak adanya fetus menyebabkan trofoblas berpoliferasi dan melakukan fungsinya selama pembentukan cairan (Silvia, Wilson, 2000 : 467).

 

Tanda dan Gejala serta Komplikasi

Pada permulaannya gejala mola hidatidosa tidak seberapa berbeda dengan kehamilan biasa, yaitu mual, muntah, pusing dan lain-lain, hanya saja derajat keluhannya sering lebih hebat. Selanjutnya perkembangan lebih pesat, sehingga pada umumnya besar uterus lebih besar dari umur kehamilan. Adapun kasus-kasus yang uterusnya lebih kecil atau sama besar walaupun jaringannya belum dikeluarkan. Dalam hal ini perkembangan trofoblas tidak begitu aktif sehingga perlu dipikirkan adanya jenis dying mole.

Perdarahan merupakan gejala utama mola. Gejala perdarahan ini biasanya terjadi antara bulan pertama sampai ketujuh dengan rata-rata 12-14 minggu. Sifat perdarahan bisa intermiten, sedikit-sedikit atau sekaligus banyak sehingga menyebabkan syok atau kematian. Karena perdarahan ini umumnya pasien mola hidatidosa masuk dalam keadaan anemia.

Seperti juga pada kehamilan biasa, mola hidatidosa bisa disertai dengan preeklampsia (eklampsia), hanya perbedaannya ialah bahwa preeklampsia pada mola terjadinya lebih muda daripada kehamilan biasa. Penyulit lain yang akhir-akhir ini banyak dipermasalhkan ialah tirotoksikosis. Maka Martaadisoebrata menganjurkan agar tiap kasus mola hidatidosa dicari tanda-tanda tirotoksikosis secara aktif seperti kita selalu mencari tanda-tanda preeklampsia pada tiap kehamilan biasa. Biasanya penderita meninggal karena krisis tiroid.

Komplikasi

Penyulit lain yang mungkin terjadi ialah emboli sel trofoblas ke paru-paru. Sebetulnya pada tiap kehamilan selalu ada migrasi sel trofoblas ke paru-paru tanpa memberikan gejala apa-apa. Akan tetapi, pada mola kadang-kadang jumlah sel trofoblas ini sedemikian banyak sehingga dapat menimbulkan emboli paru-paru akut yang bisa menyebabkan kematian.

Mola hidatidosa sering disertai dengan kista lutein, baik unilateral maupun bilateral. Umumnya kista ini menghilang setelah jaringan mola dikeluarkan, tetapi ada juga kasus-kasus dimana kista lutein baru ditemukan pada waktu follow up.

Kematian pada mola hidatidosa yang disebabkan oleh perdarahan, infeksi, payah jantung atau tirotoksikosis. Di negara maju kematian karena mola hamper tidak ada lagi. Akan tetapi, di negara berkembang masih cukup tinggi yaitu berkisar 2, 2% dan 5, 7%. Sebagian dari pasien mola akan segera sehat kembali setelah jaringannya dikeluarkan, tetapi ada sekelompok perempuan yang kemudian menderita degenerasi keganasan menjadi koriokarsinoma.

Penatalaksanaan

Diagnosis

Adanya mola hidatidosa harus dicurigai bila ada perempuan dengan amenorea, perdarahan pervaginam, uterus yang lebih besar dari tuanya kehamilan dan tidak ditemukan tanda kehamilan pasti seperti balottemen dan denyut jantung janin. Untuk memperkuat diagnosis dapat dilakukan pemeriksaan kadar HCG dalam darah atau urin, baik secara bioasay, immunoasay, maupun radioimmunoasay. Bila belum jelas dapat dilakukan pemeriksaan USG, dimana kasus mola menunjukkan gambaran yang khas, yaitu berupa badai salju (snow flake pattern) atau gambaran seperti sarang lebah (honey comb).

Pada kehamilan trimester I gambaran mola hidatidosa tidak spesifik, sehingga seringkali sulit dibedakan dari kehamilan anembrionik, missed abortion, abortus inkompletus, atau myoma uteri. Pada kehamilan trimester II gambaran mola hidatidosa umumnya lebih spesifik. Kavum uteri berisi massa ekogenik bercampur bagian-bagian anekoik vesikular berdiameter 5-10 mm. Gambaran tersebut dapat dibayangkam seperti gambaran sarang lebah (honey comb) atau badai salju (snow flake pattern).

Apabila jaringan mola memenuhi sebagian kavum uteri dan sebagian janin yang ukurannya relatif kecil dari umur kehamilannya disebut mola parsialis. Umumnya janin mati pada bulan pertama, tapi ada juga yang hidup sampai cukup besar atau bahkan aterm. Pada pemeriksaan histopatologik tampak di beberapa tempat vili yang edema dengan sel trofoblas yang tidak begitu berproliferasi, sedangkan di tempat lain masih tampak vili yang normal. Umumnya mola parsialis mempunyai kariotipe triploid. Pada perkembangan selanjutnya jenis mola ini jarang menjadi ganas.

Penatalaksanaan

Pengelolaan mola hidatidosa dapat terdiri atas 3 tahap yaitu:

1. Perbaikan keadaan umum

Perbaikan keadaan umum diantaranya dengan pemberian transfusi darah untuk memperbaiki syok atau anemia dan menghilangkan atau mengurangi penyulit seperti preeklampsia atau tirotosikosis.

2. Pengeluaran jaringan mola

a.   Vakum kuretase

Setelah keadaan umum diperbaiki dilakukan vakum kuretase tanpa pembiusan. Untuk memperbaiki kontraksi diberikan pula uterotonika. Vakum kuretase dilanjutkan dengan kuretase dengan menggunakan sendok kuret biasa yang tumpul. Tindakan kuret cukup dilakukan 1 kali saja, asal bersih. Kuret kedua dilakukan hanya jika ada indikasi. Sebelum tindakan kuret sebaiknya disediakan darah untuk menjaga bila terjadi perdarahan yang banyak.

Sementara evakuasi jaringan mola dan sementara proses evakuasi berlangsung berikan cairan infuse 10 unit oksitosin dalam 500 ml cairan I. V. (NaCl atau Ringer Laktat) dengan kecepatan 40-60 tetes per menit (sebagai tindakan preventif terhadap perdarahan hebat dan efektifitas kontraks terhadap pengosongan uteri secara cepat)

b.   Histerektomi

Tindakan ini dilakukan pada perempuan yang telah cukup umur dan cukup mempunyai anak. Alasan untuk melakukan histerektomi  ialah karena umur tua dan paritas tinggi merupakan faktor predisposisi untuk terjadinya keganasan. Batasan yang dipakai adala umur 35 tahun dengan anak hidup tiga.

3. Pemeriksaan tindak lanjut

Hal ini perlu dilakukan mengingat adanya kemungkinan keganasan setelah mola hidatidosa.

a.   Tes hCG harus mencapai nilai normal 8 minggu setelah evakuasi. Lama pengawasan berkisar satu tahun. Jika tes kehamilan dengan urin tidak negative setelah 8 minggu atau menjadi positif kembali dalam satu tahun pertama, rujuk ke pusat kesehatan tersier untuk pemantauan dan penanganan lebih lanjut.
Pasien dianjurkan untuk menggunakan kontrasepsi hormonal (apabila masih ingin anak) atau tubektomi apabila ingin menghentikan fertilitas. Alat kontrasepsi dalam rahim dikontraindikasikan karena beresiko menimbulkan perforasi dan infeksi, serta metode kontrasepsi hormonal tidak dianjurkan sampai kadar HCG kembali normal (RCOG 1996b).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s