Perubahan psikologis pada saat melahirkan

Bagi kebanyakan ibu, persalinan akan di sambut dengan beragam respon emosi mulai dari:

  1. Kebahagian yang besar dan antisipasi untuk mengungkapkan ketakutan
  2. Ketakutan terhadap hal yang tidak diketahui
  3. Ketakutan terhadap teknologi, intervensi dan hospitalisasi
  4. Ketegangan, ketakutan, dan kecemasan mengenai nyeri serta kemampuan untuk melatih kontrol diri selama persalinan
  5. Perhatian mengenai kesejahteraan bayi dan kemampuan pasangan untuk melakukan koping
  6. Ketakutan terhadap kematian – rumah sakit mungkin dipandang sebagai tempat penyakit, kematian, dan sekarat; kuatnya perasaan semacam ini dapat meningkat jika ibu mengalami komplikasi seperti perdarahan hebat pascapartum, distosia bahu, atau bahkan seksio sesarea darurat
  7. Proses persalinan menyebabkan banyak data pribadi di ketahui publik sehingga dapat menimbulkan ketakutan dan kurangnya privasi atau rasa malu.
  8. Kecemasan mengenai abnormalitas pada janin
  9. Kelegaan, ‘syukurlah semua telah berakhir’ mungkin di ungkapkan oleh kebanyakan ibu segera setelah melahirkan; kadang-kadang ibu menanggapi secara dingin terhadap peristiwa yang baru terjadi, terutama bila ibu mengalami persalinan lama, dan komplikasi, dan sulit.
  10. Beberapa ibu mungkin merasa dekat dengan pasangan dan bayi; sama alnya dengan ibu yang tidak tertarik dengan bayinya meskipun beberapa ibu yang ingin menyusui menginginkan adany akontak kulit ke kulit dan segera menyusui
  11. Tidak tertarik atau sangat perhatian terhadap bayinya
  12. Kelelahan dan peningkatan emosi
  13. Nyeri (misal perenium, puting)

Pada proses persalinan alamiah sering kali terdapat periode tenang atau diam, diantara kala satu dan dua. Kontraksi kuat pada saat transisi sekarang sudah berlalu dan serviks berdilatasi penuh. Tubuh wanita tampak “beristirahat” sebelum memulai ekspulsi. Kontraksi jarang dan tidak begitu intens. Wanita beristirahat dan dapat tidur sejenak. Periode tenang ini dapat berlangsung selama satu jam dan lebih lama pada primigravida dibandingkan multigravida. Secara bertahap terjadi gerakan bersamaan dengan turunnya kepala janin melalui pelvis; kontraksi menjadi lebih kuat dan wanita mulai mengejan secara sadar sambil melakukan dorongan singkat yang bersuara saat ekspirasi. Suara yang dikelurkan wanita dapat berasal dari leher dan wajahnya menjadi berubah karena usaha yang dilakukannya.

Aderhoid dam Robrts mengidentifikasi periode tenang ini sebagai fase pertama dari tiga fase pada kala dua persalinan, sebagai berikut:

  • Fase 1, periode tenang; Dari dilatasi lengkap sampai desakan untuk mengejan atau awitan usaha mengejan yang sering dan berirama.
  • Fase 2, mengejan aktif: Dari awitan upaya mengejan yang berirama atau desakan untuk mendorong sampai bagian presentasi tidak lagi mundur di antara usaha mengejan (crowing).
  • Fase 3, perinel: Dari crowing bagian presentasi sampai pelahiran semua tubuh bayi.

Kontraksi selama kala dua terjadi secara sering-kuat dan sedikit lebih lama yaitu, sekitar 2 menit, berlangsung selama 60 sampai 90 detik dan intensitas kuat, dan eksplusif secara alamiah. Setelah kontraksi disertai nyeri hebat yang dialami selama tahap transisi, wanita biasanya merasa lega pada saat berada di kala dua dan mampu mendorong jika dia menginginkannya. Untuk sebagian besar wanita, mendorong memberikan kepuasan penuh karena membuat wanita merasa terlibat secara aktif dan dapat melakukan hal itu dengan baik juga karena usaha mereka mempercepat tahap klimaks persalinan mereka.

Wanita biasanya tidak merasa kontraksi sebagai hal yang sangat nyeri, sebaliknya mereka merasakan kombinasi kontraksi dan mendorong sebagai hal yang melelahkan. Di pihak lain, beberapa wanita merasakan nyeri akut setiap kali mendorong dan melawan kontraksi dan setiap usaha untuk mendorong. Biasanya orang seperti ini merasa cukup takut, sering kali perlawanannya berkurng saat ia ditenangkan dan dibantu untuk mendorong secara efektif dan sejumlah anastesi alamiah dihasilkan karena tekanan kepala bayi pada otot dan jaringan lain.

Seperti pada kala satu persalinan, perilaku wanita dan manifestasi fisik selama kala dua persalinan juga mencerminkan kemajuan. Keinginan untuk mendorong yang tidak dapat ditahan biasanya merupakn tanda tibanya kala dua persalinan. Namun, hal ini tidak selalu benar, terutama jika kepala janin belum turun sepenuhnya ke dalam pelvis. Dalam keadaan seperti itu, wanita dapat ridak merasakan desakan untuk mendorong karena mekanisme reflex yang membuat ingin mendorong tidak terjadi sampai kepala janin menekan dasar pelvis. Untuk wanita yang merasa ingin mendorong setelah memasuki tahap kedua persalinan member anda informasi bahwa telah terjadi derajat penurunan kepala tertentu. Penurunan kepala janin juga dapat dideteksi degan penurunan lokasi auskultasi denyut jantung janin secara progresif dan penurunan titik nyeri punggung secara progresif.

3 Comments

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s