Mastitis

Mastitis
1.     Pengertian

Mastitis adalah inflamasi yang ditandai satu atau lebih segmen payudara yang tampak panas, merah, dan meradang. Ibu mengalami peningkatan suhu dan perasaan malaise.

Matitis adalah infeksi payudara (Varneys, 2007).

Mastitis laktasi merupakan paeradangan jaringan payudara pada wanita menyusui. (Buku Ajar Kebidanan Komunitas, 2007).

2.     Jenis – Jenis Mastitis

Inflamasi mungkin infektif atau noninfektif.

1)  Mastitis noninfektif dapat terjadi akibat duktus yang tersumbat, menyebabkan reabsorpsi air susu dari duktus ke dalam ruang interstisial dalam jaringan payudara dan respons inflamasi selanjutnya.

2)  Mastitis infektif disebabkan oleh fisura puting atau trauma lain yang menyebabkan jalan masuk agen infektif ke dalam payudara. Agen infektif yang umum adalah Staphylococcus aureus meskipun candida albicans, Escherichia coli, Enterobacteriaceae, dan Mycobacterium tuberculosis (jarang) dikultur dari payudara yang mengalami infeksi. Mastitis bilateral simultan jarang terjadi dan disebabkan oleh infeksi Streptococcus.

Berdasarkan tempatnya mastitis dapat dibedakan menjadi (Sarwono, 2009) :

1)  Mastitis yang menyebabkan abses dibawah areola mamae

2)  Mastitis ditengah payudara yang menyebabkan abses ditempat itu

3)  Mastitis pada jaringan dibawah dorsal kelenjar kelenjar yang menyebabkan abses antara payudara dan otot-otot dibawahnya.

3.    Faktor Predisposisi

Predisposisi dan faktor resiko adalah primipara, stress, teknik menyusui yang tidak benar sehingga pengosongan payudara tidak terjadi dengan baik, pemakaian bra yang terlalu ketat dan penghisapan bayi yang kurang kuat juga dapat menyebabkan stasis dan obstruksi kelenjar payudara. Adanya luka pada putting payudara juga dapat sebagai faktor resiko terjadi mastitis. (sarwono, 2009)

 

4.    Patofisiologi

Infeksi mastitis terjadi jika saat organisme masuk ke jaringan payudara, biasanya melalui celah puting. S. aureus merupakan organisme yang umum menyebabkan mastitis yang masuk melalui orofaring bayi saat menyusui. Jika mastitis infektif tidak ditangani akan berkembang menjadi abses payudara.

Mastitis juga dapat terjadi jika duktus yang tersumbat dengan alveoli yang overdistensi yang mendorong keluar substansi susu ke jaringan sekelilingnya, hingga mengaktivasi system imun. Bentuk noninfektif dari mastitis laktasi ini dikarakteristikan dengan peradangan jaringan payudara dan tidak perlu pengobatan, yang dapat berkembang menjadi mastitis infektif, kebanyakan praktisi biasanya berasumsi adanya proses infektif dan menanganinya dengan tepat.

5.    Diagnosis

Gejala mastitis meliputi demam, malaise, nyeri payudara unilateral, nyeri tekan pada area yang sakit. Tandanya antara lain; demam, eritema, dan atau lesi yang jelas pada area yang terkena.

 

6.    Komplikasi

Mastitis yang tidak ditangani memliki hampir risiko 10% risiko terbentuknya abses. Tanda dan gejala abses meliputi:

1)  Discharge putting susu purulenta

2)  Demam remiten  (suhu naik turun) disertai menggigil

3)  Pembengkakan payudara dan sangat nyeri, massa besar dank eras dengan area kulit berfluktuasi kemerahan dan kebiruan mengindikasikan lokasi abses berisi-pus.

7. Manajemen Kebidanan

Subjektif

1)  Pasien mengeluh malaise, pusing, menggigil, demam

2)  Payudara terasa sakit. Biasanya terdapat daerah yang menyakitkan unilateral atau benjolan, sering di kuadran luar payudara.

  • Payudara mungkin, panas dan kemerahan
  • Nyeri diperparah ketika saat menyusui bayi

3)  Terjadi lebih sering pada:

  • Primipara
  • 2 bulan pertama postpartum, insiden memuncak antara minggu kedua dan keempat; jarang terjadi sebelum hari kelima setelah melahirkan
  • Wanita yang memilki riwayat:

–      Terhentinya perawatan payudara

–      Penyapihan

–      Bendungan asi

–      Puting lecet

–      Salah teknik perawatan

Objektif

1)  Demam, (Lebih Dari 38,5°)

2)  Takikardi

3)  Pemeriksaan Payudara

  • Daerah yang terkena biasanya menjadi hangat, kemerahan, nyeri, bengkak, eritema
  • Payudara mengalami peregangan karena bendungan asi, mengeras
  • Biasanya putting pecah atau lecet

4)  Pemeriksaan darah, jika dilakukan akan menunjukkan peningkatan leukosit (leukositosis)

5)  Pemeriksaan fisik lain dalam batas normal

Analisa

1)  Mastitis, infeksi postpartum

  • Saluran tersumbat, bendungan asi, mastitis noninfeksi
  • Pembengkakan payudara
  • Penyakit payudara lainnya, carcinoma
  • Viral sindrom
  • Infeksi tipe lainnya (endometritis, cystitis)

Penatalaksanaan

Penanganan utama mastitis adalah memulihkan keadaan dan mencegah terjadinya komplikasi yaitu abses atau bernanah dan sepsis yang dapat terjadi bila penanganan terlambat, tidak tepat ataupun kurang efektif. Laktasi tetap dianjurkan untuk dilanjutkan dan pengosongan payudara sangat penting untuk keberhasilan terapi. Terapi suportif berupa bedrest, pemberian cairan yang cukup, anti nyeri dan anti inflamasi sangat dianjurkan. Pemberian antibiotic secara ideal berdasarkan hasil kepekaan kultur kuman yang diambil dari air susu sehingga keberhasilan terapi dapat terjamin. Karena kultur kuman tidak secara rutin dilakukan, secara empiris pilihan pengobatan yang pertama ditujukan kepada stafilokokus aureus sebagai penyebab terbanyak dan streptokokus yaitu dengan penisilin tahan penisilinase (dikloksasilin) atau sefalosporin. Untuk yang alergi penisilin digunakan eritromisin atau sulfa. Pada sebagian kasus antibiotika dapat diberikan secara per oral dan tidak memerlukan perawatan dirumah sakit. Pada umunya dengan pengobatan segera dan adekuat gejala akan menghilang dalam 24-48 jam kemudian dan jarang terjadi komplikasi. (Sarwono, 2009)

            Analisis mikroskopis dan mikrobiologis untuk menghitung jumlah bakteri dan leukosit dalam asi, yang dapat berkontribusi terhadap diagnosis. Mastitis infeksi akan menunjukkan koloni bakteri yang lebih besar dari  dan leukosit yang lebih besar dari  (Dahlen, 1993)

         Sedangkan dari buku sumber lain (Ambulatori Obstetrics) menjelaskan penanganan mastitis seperti berikut:

1)  Menyarankan wanita untuk melanjutkan pengosongan payudara, baik dengan menyusui atau dengan memompa

2)  Menyarankan pengompresan payudara dengan kompres hangat

3)  Menganjurkan ibu waktu istirahat  yang cukup

4)  Menganjurkan ibu untuk meningkatkan hidrasi

5)  Terapi antibiotic digunakan untuk semua kasus yang diduga mastitis untuk mengurangi resiko pembentukan abses. Mulailah terapi dengan (nieybl, 1996; lawrence, 1994):

  • Penicillin 250 mg per oral 4 kali dalam sehari untuk 10 sampai 14 hari
  • Jika penicillin-sensitif untuk pasien, gunakan erytromisin 250 mg per oral 4 kali dalam sehari untuk 10 sampai 14 hari
  • Jika stapilococcus resisten terhadap penicillin, gantikan dengan dicloxacillin 250 sampai 500 mg.

6)     Berikan analgetik/antipiretik

Pendidikan pada pasien

1)  Menjelaskan tentang penyebab mastitis

2)  Menyarankan kelanjutan dari keperawatan pengobatan antibiotik. Sarankan untuk melakukan pengosongan payudara dengan menyusui atau menggunakan pompa ASI untuk mencegah stasis.

3)  Tindakan untuk mengurangi ketidaknyamanan saat menyusui dari payudara sakit meliputi pengompresan air hangat sebelum menyusui.

4)  Terapkan kompres hangat untuk payudara.

5)  Menyarankan wanita untuk tetap mengkonsumsi antibiotik meskipun gejala dapat terjadi dalam beberapa hari.

6)  Perempuan harus waspada terhadap tanda infeksi pada bayi.

Sumber:

Varney,Helen dkk.2008. Buku Ajar Asuhan Kebidanan Volume 2.Jakarta: EGC

UCSF Nursing Press.

L., Winifred, dkk. 2001. Ambulatori Obstetrics third edition. San Fransisco:

Prawirihardjo, Sarwono.2009. Ilmu Kebidanan. Jakarta: PT Bina Pustaka

Sarwono Prawirohardjo

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s