Pertumbuhan Janin Terhambat

Definisi

Pertumbuhan janin terhambat adalah suatu keadaan yang dialami oleh bayi-bayi yang mempunyai berat badan di bawah batasan tertentu dari umur kehami­lannya.

Etiologi

  1. Faktor Ibu
  • Ibu dengan Perawakan Kecil

 Wanita yang bertubuh kecil biasanya mempunyai bayi yang lebih kecil. Jika seorang wanita memulai kehamilan dengan berat badan kurang dari 100 pon (50 kg), risiko melahirkan bayi kecil-untuk-masa kehamilan meningkat sekurang-­kurangnya dua kali lipat (Simpson dkk., 1975). Data dari sebuah studi longitudinal semua kelahiran selama satu minggu pada tahun 1958 di Inggris, Wales, dan Skotlandia menunjukkan bahwa terdapat efek-­efek antar generasi pada berat lahir yang diturunkan melalui garis ibu (Emanuel dkk., 1992). Klebanoff dkk. (1997) juga melaporkan bahwa berkurangnya pertumbuhan intrauteri sang ibu merupakan faktor risiko hambatan pertumbuhan intrauterin untuk anak-anaknya. Masih belum jelas apakah fenomena ibu kecil melahirkan bayi kecil bersifat alami atau tidak. Brooks dkk. (1995) menganalisis 62 kelahiran setelah pendonoran ovum untuk meneliti pengaruh relatif donor versus resipien pada berat badan. Mereka menyimpulkan bahwa lingkungan yang ditimbulkan oleh ibu lebih penting daripada kontribusi genetiknya terhadap berat lahir. Kriopreservasi embrio tidak berpengaruh buruk pada pertumbuhan janin atau pascalahir (Wennerholm dkk., 1998).

  • Pertambahan Berat Badan Ibu dan Nutrisi yang Buruk

 Pada wanita dengan berat badan rata-rata atau rendah, kurangnya pertambahan berat badan selama kehamilan dapat menimbulkan pertumbuhan janin terhambat (Simpson dkk., 1975). Kurangnya pertambahan berat badan pada trimes­ter kedua berkorelasi kuat dengan penurunan berat lahir (Abrams dan Selvin, 1995). Namun, jika ibu berperawakan besar atau sehat, pertambahan berat badan di bawah rata-rata tanpa penyakit pada ibu tidak mungkin disertai dengan hambatan pertumbuhan janin yang bermakna.

          Pengham­batan ketat pertambahan berat badan pada paruh terakhir kehamilan hendaknya tidak dianjurkan. Meski demikian, tampaknya pembatasan kalori sampai kurang dari 1500 kkal/hari hanya sedikit sekali berefek simpang pada pertumbuhan janin (Lechtig dkk., 1975). Efek kelaparan pada pertum­buhan janin yang paling baik tercatat adalah pada musim dingin 1944 di Belanda ketika Pasukan Jerman membatasi asupan makanan sampai 600 kkal/hari untuk semua warga negara, termasuk wa­nita hamil. Kelaparan tersebut berlangsung selama 28 minggu dan terjadi penurunan berat badan rata-rata 250 g (Stein dkk., 1975). Meskipun hanya ter­dapat rerata penurunan kecil pada berat lahir, angka kematian janin meningkat secara signifikan.

  • Deprivasi Sosial

Wilcox dkk. (1995) dalam sebuah studi yang melibatkan 7493 wanita Inggris, menemukan bahwa ibu-ibu yang mengalami deprivasi sosial paling berat melahirkan bayi yang amat kecil. Demikian pula Dejin-Karlsson dkk. (2000) secara prospektif melakukan penelitian kohor pada para wanita Swedia dan menemukan bahwa kurangnya sum­ber-sumber psikososial mempengaruhi risiko bayi yang terhambat pertumbuhannya. Hampir 100 tahun yang lalu, Williams, yang berkomentar dalam edisi pertama buku ini (1903), menulis: Kondisi sosial ibu dan rasa nyaman yang melingkupinya juga memberikan pengaruh yang nyata pada berat anak, anak-anak yang lebih berat lebih sering dite­mukan pada kalangan sosial yang lebih tinggi”.

  • Teratogen Kimiawi

          Semua teratogen dapat meng­ganggu pertumbuhan janin. Beberapa antikonvulsan, seperti fenitoin dan trimetadion, dapat menimbul­kan sindrom yang spesifik dan karakteristik, terma­suk gangguan pertumbuhan janin (Hanson dkk., 1976). Merokok menyebabkan gangguan pertum­buhan serta kelahiran preterm yang berhubungan langsung dengan jumlah rokok yang dikonsumsi (Cliver dkk., 1995; Shah dan Bracken, 2000). Nar­kotika dan obat-obat sejenis bekerja dengan menu­runkan asupan makanan pada ibu dan jumlah sel janin. Alkohol adalah teratogen poten yang efeknya setara dengan dosis yang dikonsumsi. Penggunaan kokain juga dikaitkan dengan pertambahan berat janin yang buruk (LeBlanc dkk., 1987). Miller dkk. (1995) menyatakan bahwa hal tersebut mungkin lebih disebabkan oleh konsumsi rokok yang sering dan asuhan pranatal yang buruk daripada langsung disebabkan oleh kokain.

  • Penyakit Ginjal Kronis

          Penyakit ginjal dapat di­sertai oleh hambatan pertumbuhan janin (Cunningham dkk., 1990; Stettler dan Cunningham, 1992).

  • Penyakit Pembuluh Darah

          Penyakit vascular kronis, terutama bila kemudian dipersulit oleh preeklamsia superimposed, sering menyebabkan hambatan pertumbuhan. Preeklamsia sendiri dapat menyebabkan kegagalan pertumbuhan janin, teru­tama jika awitannya sebelum usia gestasi 37 minggu (Xiong dkk., 1999). Hambatan pertumbuhan janin pada pre­eklamsia adalah sebuah sebuah penanda kepa­rahannya.

  • Anemia

Pada kebanyakan kasus, anemia tidak menyebabkan hambatan pertumbuhan, ke­cuali pada penyakit sel sabit atau anemia herediter lain yang disertai penyakit serius pada ibu. Seba­liknya, kekurangan volume total darah ibu pada awal kehamilan telah menimbulkan hambatan pertumbuhan janin (Duvekot dkk., 1995).

  • Sindrom Antibodi Antifosfolipid

          Dua golongan antibodi antifosfolipid telah dikaitkan dengan pertumbuhan janin terhambat yaitu antibodi antikardioli­pin dan antikoagulan lupus (Lockwood dan Rand, 1994). Hasil kehamilan .pada wanita dengan antibodi ini sering buruk, dan mungkin juga menimbulkan preek­lamsia awitan dini dan kematian janin trimester kedua atau ketiga (Branch dkk., 1992). Morbiditas ibu akibat penyakit trombotik vaskular tidak jarang ditemukan. Mekanisme patofisiologis pada janin tampaknya disebabkan oleh agregasi trombosit pa­da ibu dan trombosis plasenta. Antibodi ini juga dapat dicurigai pada wanita yang mengalami kema­tian janin trimester kedua berulang atau pertum­buhan janin terhambat awitan dini, khususnya jika disertai oleh penyakit hipertensif berat dini.

  • Kehamilan Ekstrauterine

          Janin yang tumbuh di luar uterus biasanya mengalami hambatan pertum­buhan. Demikian juga, malformasi uterus ibu telah dikaitkan dengan gangguan per­tumbuhan janin.

2. Faktor Janin

  • Kehamilan Multiple

          Kehamilan dengan dua janin atau lebih lebih kemungkinan besar dipersulit oleh pertumbuhan kurang pada salah satu atau kedua janin dibanding dengan janin tunggal normal. Hambatan pertumbuhan dilaporkan terjadi pada 10 sampai 50 persen bayi kembar (Hill dkk., 1994).

  • Kelainan Plasenta dan Tali Pusat

          Pemisahan plasenta parsial kronis, infark luas, atau korioangioma kemungkinan menyebabkan hambatan pertumbuhan janin. Plasenta sirkumvalata atau plasenta previa dapat mengganggu pertumbuhan, tetapi biasanya janin tidak jauh lebih kecil daripada janin normal. Insersi marginal tali pusat dan khu­susnya insersi velamentosa lebih mungkin disertai gangguan pertumbuhan janin.

          Banyak kasus pertumbuhan janin terhambat terjadi pada kehamilan dengan janin yang tampak normal dan plasenta yang secara umum tampak normal. Kegagalan pertumbuhan pada kasus ini di­perkirakan sering disebabkan oleh insufisiensi uteroplasenta. Wanita yang mengandung janin yang mengalami hambatan pertumbuhan dan tidak dapat diterangkan penyebabnya menunjukkan penurunan aliran darah uteroplasenta empat kali lipat diban­ding dengan janin yang tumbuh normal (Lunell dan Nylund, 1992). Penurunan serupa juga ditemukan pada janin yang terhambat pertumbuhannya akibat malformasi kongenital sehingga mengesankan bah­wa aliran darah ibu sebagian mungkin diatur oleh janin (Howard, 1987; Rankin dan McLaughlin, 1979). Aliran darah uteroplasenta juga menurun pa­da wanita yang mengalami preeklampsia dibanding dengan wanita normotensif. Yang menarik, bayi­bayi makrosomik tidak mengalami peningkatan aliran darah uteroplasenta (Lunell dan Nylund, 1992).

  • Hipoksia Kronis

          Jika terpajan pada lingkungan yang hipoksik secara kronis, beberapa janin mengalami penurunan berat badan yang signifikan. Janin dari wanita yang tinggal di dataran tinggi biasanya mempunyai berat badan lebih rendah daripada mereka yang dilahir­kan oleh ibu yang tinggal di dataran rendah. Lichty dkk. (1957) melaporkan rerata perbedaan 250 g antara bayi yang dilahirkan oleh wanita Peru pada ketinggian di atas 10.000 kaki dan yang dilahirkan pada ketinggian permukaan laut. Janin dari wanita yang menderita penyakit jantung sianotik seringkali mengalami hambatan pertumbuhan yang berat (Patton dkk., 1990)

  • Infeksi Janin

          Infeksi virus, bakteri, protozoa, dan spiroket dianggap menjadi penyebab 5 persen kasus pertumbuhan janin terhambat (Klein dan Remington, 1995). Yang paling terkenal adalah infeksi yang di­sebabkan oleh rubela dan sitomegalovirus (Lin dan Evans, 1984; Stagno dkk., 1977). Mekanisme yang mengganggu pertumbuhan janin tampaknya berbe­da pada kedua infeksi virus ini. Sitomegalovirus dikaitkan dengan sitolisis langsung dan kehilangan sel-sel fungsional. Infeksi rubela menyebabkan insufisiensi vaskular dengan merusak endotelium pembuluh darah kecil. Laju pembelahan sel juga menurun pada infeksi rubela kongenital (Pollack dan Divon, 1992). Hepatitis A dan B menyebabkan pela­hiran preterm, tetapi juga dapat menimbulkan efek simpang pada pertumbuhan janin (Waterson, 1979). Listeriosis, tuberkulosis, dan sifilis telah dilaporkan menyebabkan hambatan pertumbuhan janin. Seba­liknya, pada kasus sifilis, plasenta hampir selalu bertambah berat dan ukurannya akibat edema dan peradangan perivaskular (Varner dan Galask, 1984). Toksoplasmosis adalah infeksi protozoa yang paling sering menimbulkan gangguan pertumbuhan janin, tetapi malaria kongenital dapat menimbulkan akibat yang sama (Varner dan Galask, 1984).

  • Malforasi Konginetal

          Dalam sebuah studi terhadap 13.000 bayi dengan anomali struktural mayor, 22 persen disertai oleh hambatan pertum­buhan (Khoury dkk., 1988). Secara umum, semakin berat malformasinya, semakin mungkin bayi tersebut kecil-untuk-masa kehamilannya. Hal ini sangat jelas pada janin yang mengalami abnormalitas kromosom atau malformasi kardiovaskular yang serius.

  • Kelainan Kromosom

          Plasenta janin dengan trisomi autosomal mempunyai jumlah arteri kecil berotot yang lebih sedikit di batang vili tersiernya (Rochelson dkk., 1990). Jadi, baik insufisiensi pla­senta maupun pertumbuhan dan diferensiasi sel ab­normal primer mungkin berperan menyebabkan hambatan pertumbuhan janin dengan derajat sig­nifikan yang sering disertai kelainan kariotipe. Dalam sebuah seri penelitian yang melibatkan 458 janin tanpa anomali struktural pada pemeriksaan sonografi, Snijders dkk. (1993) menemukan abnor­malitas kariotipe sebanyak 20 persen. Bila ada gang­guan pertumbuhan dan anomali janin, prevalensi kelainan kromosom bahkan lebih besar lagi.

          Meskipun kegagalan pertumbuhan pascalahir menonjol pada anak-anak dengan trisomi 21, gang­guan pertumbuhan janin umumnya ringan (Thelander dan Pryor, 1966). Bahkan rerata berat lahir mereka adalah 2900 g. Oleh beberapa peneliti, telah diamati adanya kesenjangan panjang ubun-­ubun-bokong trimester pertama yang signifikan pada janin dengan trisomi 21. Tetapi hal ini tidak ditemui oleh peneliti lain (Golbus 1978; Stephens dan Shepard, 1980). Setelah trimester pertama, panjang semua tulang panjang pada janin dengan trisomi 21 lebih pendek daripada janin normal (Fitzsimmons dkk., 1990). Panjang femur yang me­mendek dan hipoplasia falangs tengah tercatat meningkat frekuensinya pada trisomi 21.

          Berlawanan dengan gangguan pertumbuhan ringan dan bervariasi yang menyertai trisomi 21, janin dengan trisomi 18 hampir selalu mengalami gangguan yang signifikan. Dalam satu serf pene­litian neonatus dengan trisomi 18, 10 di antara 11 bayi mempunyai berat kurang dari 2500 g saat lahir (Moerman dkk., 1982). Kegagalan pertumbuhan te­lah ditemukan sejak trimester pertama. Pada trimes­ter kedua, ukuran tulang panjang biasanya turun di bawah persentil ketiga untuk umumya, dan ekstremi­tas atas mengalami gangguan lebih parah daripada ekstremitas bawah (Droste dkk., 1990). Pertumbuh­an organ viseral pada kondisi ini juga abnormal (Droste, 1992). Hambatan pertumbuhan dalam dera­jat tertentu juga sering ditemukan pada janin trisomi 13, tetapi umumnya tidak seberat trisomi 18.

          Pertumbuhan janin terhambat bermakna tidak ditemukan pada sindrom Turner (45, X atau disge­nesis gonad) atau sindrom Klinefelter (47, XXY) (Droste, 1992).

  • Trisonomi 16

          Trisomi 16 adalah trisomi yang paling sering ditemukan pada abortus spontan dan hampir selalu, letal bagi janin dalam keadaan nonmosaik (Lindor dkk., 1993). Bercak-bercak trisomi 16 di plasenta di­sebut mosaikisme plasenta berbatas tegas—menye­babkan insufisiensi plasenta yang mungkin menye­babkan banyak kasus gangguan pertumbuhan janin yang sebelumnya tidak dapat diterangkan (Kalousek dkk., 1993). Pada kehamilan-kehamilan ini, kelainan kromosom terbatas di plasenta. Wolstenholme (1995) telah mengulas makna mosaikisme plasenta trisomi 16 sejak gametogenesis sampai aterm

  • Kelainan pada Kartilago dan Tulang

          Berbagai sindrom herediter seperti osteogenesis imper­fecta dan berbagai jenis kondrodistrofi menyertai gangguan pertumbuhan janin.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s