MASALAH MENYUSUI

Masalah menyusui paling baik dicegah dengan mengoptimalkan perawatan antepartum, rutinitas kelahiran dan manajemen menyusui serta dengan memberikan dukungan maternal proaktif. Tingkat kenyamanan ibu dan bayi serta pertumbuhan dan haluaran bayi adalah tanda-tanda penting menyusui. Tantangan yang umum terjadi pada masa menyusui adalah ketidaknyamanan payudara dan puting susu, penyerapan dan tidur bayi, masalah medis dan masalah gaya hidup.

1.Lecet Puting Susu

Lecet pada puting susu adalah satu alasan yang paling umum pada wanita yang mempercepat penyapihan. Riset melaporkan bahwa antara 11-96% ibu mengalami lecet pada puting susu. Kesan klinis menunjukan bahwa awal ketidaknyamanan puting susu disebabkan oleh posisi dan perlekatan bayi yang tidak tepat. Nyeri dan lecet dapat segera hilang dengan perbaikkan posisi dan perlekatan bayi pada payudara. Pada kasus terjadinya  abrasi dan fisura puting susu dan areola, nyeri banyak berkurang dengan perbaikan posisi dan letak bayi. Akan tetapi, hilangnya nyeri tidak dapat terjadi hingga kulit yang rusak benar-benar sembuh. Nyeri puting susu tidak hilang dengan perbaikan posisi dan perlekatan bayi mungkin mengalami komplikasi akibat:

  • Inflamasi karena reaksi krim topikal, deterjen, sabun dll.
  • Infeksi candida albicans, staphylococcus aureus atau agen infeksius lain meskipun jarang.
  • Kerusakan perlengkapan atau pakain (BH tidak pas, lapisan BH atau kap BH yang lembab, pelindung puting susu, kap payudara dan salah menggunakan pompa payudara dan alat lain).
  • Ekzema atau psoriasi puting atau areola.
  • Fenomena Raynaund, vasospasme puting yang mengakibatkan perubahan warna puting dalam berespons terhadap pemajanan udara dingin (seperti yang terjadi pada akhir menyusui).
  •  Jarang terjadi gatal-gatal, rasa terbakar, perubahan seperti ekzema pada puting dan areola mungkin disebabkan penyakit Paget payudara yang merupakan kondisi kanker.
  • Protokol terapi untuk infeksi Candida Albicans termasuk terapi puting dengan nistatin topikal, mikonazol atau klotrimazol.

Penanganan Putting Lecet :

1)   Saat menyusui, pastikan putting susu dan aerola masuk ke dalam mulut bayi

2)   Saat menghentikan proses menyusui, masukkan jari ibu ke sudut mulut bayi dan jangan menarik putting susu secara langsung

3)   Olesi krim tertentu (lanolin) pada putting susu

4)   Gunakan antibiotic steroid anastesi tertentu

5)   Bila lecetnya luas, menyusui ditunda 24 – 48 jam dan ASI dikeluarkan dengan tangan atau dipompa

6)   Gunakan es untuk memastikan putting. Minum obat penghilang rasa sakit, misalnya ibuprofen.

2. Pembesaran Payudara

Pembesaran payudara adalah kondisi penuh yang berlebihan pada payudara. Payudara yang mengalami pembesaran cenderung panas dan nyeri dengan kulit tegang dan mengkilat. Pada periode postpartum awal, payudara yang membesar tidak hanya penuh oleh air susu, payudara juga terdiri dari darah ekstra dan limfe yang tertarik ke payudara karena perubahan hormon yang mempresipitasi produksi air susu matur. Jadwal menyusui yang dibatasi diperkirakan merupakan determinan utama pembesaran payudara. Untuk mencegah pembesaran payudara atau pembengkakan, ibu harus dianjurkan untuk menyusui bayinya menurut isyarat bayi, dan dengan posisi yang nyaman. Riset yang menelliti modalitas kenyaman untuk terapi pembesaran menemukan bahwa pemulihan terbaik distensi payudara adalah menyusui. Air susu harus dikeringkan agar ibu mendapatkan pemulihan. Jika bayi tidak mampu menyentuh payudara yang sangat bengkak, rendam dengan air hangat, kompres dingin dan atau penekanan air susu dengan tangan secara perlahan harus dilakukan hingga air susu mulai mengalir dan payudara sedikit melunak.

 3. Duktus Tersumbat

            Duktus tersumbat juga disebut juga kongesti payudara merupakan kejadian yang hampir umum pada minggu-minggu pertama menyusui. Sumbatan duktus diperkirakan terjadi akibat hambatan aliran air susu karena tekanan internal dan eksternal (misalnya pembesaran, BH dan pakaian ketat). Ibu harus dianjurkan untuk menyusui secara sering jika bayi lapar, sebagai upaya mengosongkan area yang tersumbat. Banyak klinisi menganjurkan perubahan orientasi posisi bayi sehingga dagu bayi menekan ke segmen payudara yang tersumbat. Ini bertujuan memfokuskan kerja masase lidah pada area yang tersumbat. Payudara tersumbat yang tidak ditangani dapat berkembang menjadi mastitis. Penting untuk membantu ibu dalam menentukan faktor yang berperan terhadap masalah ini, dan dalam meningkatkan aliran air susu selama menyusui.

Penanganan pada duktus tersumbat:

1)   Gunakan BH yang mendukung

2)   Susui bayi tiap 2 sampai 4 jam meskipun bayi tertidur

3)   Jika aerola mengeras jangan paksakan untu menyusui tetapi berikan kompres air hangat.

4)   Hindari memompa payudara kecuali jika bayi menolak menyusui

5)   Saat bayi menyussui pijat payudara untuk membantu aliran ASI

6)   Untuk mengatasi sakit, kompres dengan air dingin atau makan tablet penghilang sakit (mengandung achetaminophen)

 4. Mastitis

            Mastitis adalah inflamasi yang ditandai satu atau lebih segmen payudara yang tampak panas, merah, dan meradang. Ibu mengalami peningkatan suhu dan perasaan malaise. Inflamasi mungkin infektif atau noninfektif. Mastitis noninfektif dapat terjadi akibat dukutus yang tersumbat, menyebabkan reabsorpsi air susu dari duktus ke dalam ruang interstisial dalam jaringan payudara dan respons inflamasi selanjutnya. Mastitis infektif disebabkan oleh fisura puting atau trauma lain yang menyebabkan jalan masuk agen infektif ke dalam payudara. Agen infektif yang umum adalah Staphylococcus aureus meskipun candida albicans, Escherichia coli, Enterobacteriaceae, dan Mycobacterium tuberculosis (jarang) dikultur dari payudara yang mengalami infeksi. Mastitis bilateral simultan jarang terjadi dan disebabkan oleh infeksi Streptococcus. Karena sulit untuk membedakan antara mastitis infektif dan noninfektif, penanganan khusus meliputi pemberian antibiotik dikloksasilim atau kloksasilin dalam dosis 500 mg empat kali sehari selama 10-14 hari. Penanganan dengan antibiotik penting untuk dijalani sampai selesai karena mastitis telah dinyatakan terjadi kembali apabila penanganan tidak tuntas. Memastikan drainasie yang adekuat pada payudara yang terkena merupakan hal yang penting untuk pemecahan masalah ini, dan diselesaikan dengan menyusui yang kontinyu. Bantu ibu untuk memeperbaiki cakupan mulut bayi pada puting dan aerola dan perlekatan bayi pada payudara. Ibu mungkin perlu menghentikan aktivitas lain selama beberapa hari untuk berfokus pada menyusui, istirirahat dan perawatan diri. Pengobatan antinflamasi, seperti ibuprofen (Mortin, Avil, dll) juga dapat bermanfaat. Faktor yang diperkirakan menjadi penyebab mastitis seperti pembesaran, pemberian makan yang terburu-buru, penggunaan pelindung puting, masalah dalam posisi dan perlekatan bayi pada payudara, BH yang ketat, dan nyeri puting. Klinisi menyatakan bahwa mastitis cenderung terjadi pada wanita penderita anemia, mungkin karena penurunan respon imun. Perubahan yang tiba-tiba dalam frekuensi pemberian makan, seperti penundaan atau melewatkan pemberian makan dengan susu “penunjang” cukup untuk memicu mastitis pada beberapa wanita.

 5. Abses

            Abses adalah penggumpalan pus terlokalisasi di payudara, dibentuk oleh segalami disintegrasi dan dikelilingi oleh area yang mengalami inflamasi. Mastitis yang tidak ditangani dapat menyebabkan pembentukkan satu atau beberapa abses dalam payudara. Sebagaian besar abses perlu dilakukan insisi pembedahan dan mungkin cairan dialirkan ke luar. Eksudat dari abses sebaiknya dikultur untuk menentukan terapi antibiotik yang tepat.

Sumber:

Varney,Helen dkk.2008.Buku Ajar Asuhan Kebidanan Volume 2.Jakarta: EGC

PROGRAM KESEHATAN IBU DAN ANAK

Program Kesehatan Ibu dan Anak (KIA

  • Pengertian

Kesehatan Ibu dan Anak adalah suatu program yang meliputi pelayanan dan pemeliharaan ibu hamil, ibu bersalin, ibu nifas, ibu dengan komplikasi kebidanan, keluarga berencana, bayi baru lahir, bayi baru lahir dengan komplikasi, bayi dan Balita, remaja, dan Lansia

  • Target Program Kesehatan Ibu dan Anak (KIA)
    1. Target program adalah meningkatnya ketersediaan dan keterjangkauan pelayanan kesehatan yang bermutu bagi seluruh masyarakat pada tahun 2014 dalam program gizi serta kesehatan ibu dan anak yaitu :
    2. Ibu hamil mendapat pelayanan Ante Natal Care (K1) sebesar 100%.
    3. Persalinan ditolong oleh tenaga kesehatan terlatih sebesar 90%.
    4. Cakupan peserta KB aktif sebesar 65%.
    5. Pelayanan kesehatan bayi sehingga kunjungan neonatal pertama (KN1) sebesar 90% dan KN Lengkap (KN1, KN2, dan KN3) sebesar 88%.
    6. Pelayanan kesehatan anak Balita sebesar 85%.
    7. Balita ditimbang berat badannya (jumlah balita ditimbang/balita seluruhnya (D/S) sebesar 85%).
    8. ASI Eksklusif pada bayi usia 0-6 bulan sebesar 80%.
    9. Rumah Tangga yang mengonsumsi Garam Beryodium sebesar 90%.
    10. Ibu hamil mendapat 90 Tablet Tambah Darah sebesar 85% dan Balita usia 6-59 bulan mendapatkan Kapsul Vitamin A sebanyak 85%.
    11. Cakupan Imunisasi Dasar Lengkap kepada bayi 0-11 bulan sebesar 90 %.
    12. Penguatan Imunisasi Rutin melalui Gerakan Akselerasi Imunisasi Nasional (GAIN) UCI, sehingga desa dan kelurahan dapat mencapai Universal Child Immunization (UCI) sebanyak 100%.
    13. Pelaksanaan promosi kesehatan dan pemberdayaan masyarakat dalam mendukung terwujudnya Desa dan Kelurahan Siaga aktif sebesar 80%

 

  • Strategi Program Kesehatan Ibu dan Anak (KIA)

Strategi Promosi Peningkatan KIA serta percepatan penurunan AKI dan AKB adalah melalui Advokasi, Bina Suasana dan Pemberdayaan Masyarakat yang didukung oleh Kemitraan.

a.    Advokasi

Advokasi merupakan upaya strategis dan terencana untuk mendapatkan komitmen dan dukungan dari para pengambil keputusan dan pihak terkait (stakeholders) dalam pelayanan KIA.

b.   Bina Suasana

Bina Suasana merupakan upaya menciptakan opini publik atau lingkungan sosial, baik fisik maupun non fisik, yang mendorong individu, keluarga dan kelompok untuk mau melakukan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) terkait dengan upaya peningkatan KIA serta mempercepat penurunan AKI dan AKB. Bina suasana salah satunya dapat dilakukan melalui sosialisasi kepada kelompok-kelompok potensial, seperti organisasi kemasyarakatan, kelompok opini dan media massa. Bina suasana perlu dilakukan untuk mendukung pencapaian target program KIA.

c.    Pemberdayaan Masyarakat

Pemberdayaan masyarakat merupakan upaya menumbuhkan kesadaran, kemauan, kemampuan masyarakat dalam mencegah dan mengatasi masalah KIA. Melalui kegiatan ini, masyarakat diharapkan mampu berperilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) dan berperan serta dalam pemberdayaan masyarakat di bidang KIA.

d.   Kemitraan

Kemitraan dalam penanganan masalah KIA adalah kerjasama formal antara individu-individu, kelompok-kelompok peduli KIA atau organisasi-organisasi kemasyarakatan, media massa dan swasta/dunia usaha untuk berperan aktif dalam upaya peningkatan KIA di masyarakat.

Sumber:

Kementerian Kesehatan RI.(2010).Rencana Operasional Promosi Kesehatan Ibu dan Anak. Available from  www.promkes.depkes.go.id (accesed 11 February 2013)

Pertumbuhan Janin Terhambat

Definisi

Pertumbuhan janin terhambat adalah suatu keadaan yang dialami oleh bayi-bayi yang mempunyai berat badan di bawah batasan tertentu dari umur kehami­lannya.

Etiologi

  1. Faktor Ibu
  • Ibu dengan Perawakan Kecil

 Wanita yang bertubuh kecil biasanya mempunyai bayi yang lebih kecil. Jika seorang wanita memulai kehamilan dengan berat badan kurang dari 100 pon (50 kg), risiko melahirkan bayi kecil-untuk-masa kehamilan meningkat sekurang-­kurangnya dua kali lipat (Simpson dkk., 1975). Data dari sebuah studi longitudinal semua kelahiran selama satu minggu pada tahun 1958 di Inggris, Wales, dan Skotlandia menunjukkan bahwa terdapat efek-­efek antar generasi pada berat lahir yang diturunkan melalui garis ibu (Emanuel dkk., 1992). Klebanoff dkk. (1997) juga melaporkan bahwa berkurangnya pertumbuhan intrauteri sang ibu merupakan faktor risiko hambatan pertumbuhan intrauterin untuk anak-anaknya. Masih belum jelas apakah fenomena ibu kecil melahirkan bayi kecil bersifat alami atau tidak. Brooks dkk. (1995) menganalisis 62 kelahiran setelah pendonoran ovum untuk meneliti pengaruh relatif donor versus resipien pada berat badan. Mereka menyimpulkan bahwa lingkungan yang ditimbulkan oleh ibu lebih penting daripada kontribusi genetiknya terhadap berat lahir. Kriopreservasi embrio tidak berpengaruh buruk pada pertumbuhan janin atau pascalahir (Wennerholm dkk., 1998).

  • Pertambahan Berat Badan Ibu dan Nutrisi yang Buruk

 Pada wanita dengan berat badan rata-rata atau rendah, kurangnya pertambahan berat badan selama kehamilan dapat menimbulkan pertumbuhan janin terhambat (Simpson dkk., 1975). Kurangnya pertambahan berat badan pada trimes­ter kedua berkorelasi kuat dengan penurunan berat lahir (Abrams dan Selvin, 1995). Namun, jika ibu berperawakan besar atau sehat, pertambahan berat badan di bawah rata-rata tanpa penyakit pada ibu tidak mungkin disertai dengan hambatan pertumbuhan janin yang bermakna.

          Pengham­batan ketat pertambahan berat badan pada paruh terakhir kehamilan hendaknya tidak dianjurkan. Meski demikian, tampaknya pembatasan kalori sampai kurang dari 1500 kkal/hari hanya sedikit sekali berefek simpang pada pertumbuhan janin (Lechtig dkk., 1975). Efek kelaparan pada pertum­buhan janin yang paling baik tercatat adalah pada musim dingin 1944 di Belanda ketika Pasukan Jerman membatasi asupan makanan sampai 600 kkal/hari untuk semua warga negara, termasuk wa­nita hamil. Kelaparan tersebut berlangsung selama 28 minggu dan terjadi penurunan berat badan rata-rata 250 g (Stein dkk., 1975). Meskipun hanya ter­dapat rerata penurunan kecil pada berat lahir, angka kematian janin meningkat secara signifikan.

  • Deprivasi Sosial

Wilcox dkk. (1995) dalam sebuah studi yang melibatkan 7493 wanita Inggris, menemukan bahwa ibu-ibu yang mengalami deprivasi sosial paling berat melahirkan bayi yang amat kecil. Demikian pula Dejin-Karlsson dkk. (2000) secara prospektif melakukan penelitian kohor pada para wanita Swedia dan menemukan bahwa kurangnya sum­ber-sumber psikososial mempengaruhi risiko bayi yang terhambat pertumbuhannya. Hampir 100 tahun yang lalu, Williams, yang berkomentar dalam edisi pertama buku ini (1903), menulis: Kondisi sosial ibu dan rasa nyaman yang melingkupinya juga memberikan pengaruh yang nyata pada berat anak, anak-anak yang lebih berat lebih sering dite­mukan pada kalangan sosial yang lebih tinggi”.

  • Teratogen Kimiawi

          Semua teratogen dapat meng­ganggu pertumbuhan janin. Beberapa antikonvulsan, seperti fenitoin dan trimetadion, dapat menimbul­kan sindrom yang spesifik dan karakteristik, terma­suk gangguan pertumbuhan janin (Hanson dkk., 1976). Merokok menyebabkan gangguan pertum­buhan serta kelahiran preterm yang berhubungan langsung dengan jumlah rokok yang dikonsumsi (Cliver dkk., 1995; Shah dan Bracken, 2000). Nar­kotika dan obat-obat sejenis bekerja dengan menu­runkan asupan makanan pada ibu dan jumlah sel janin. Alkohol adalah teratogen poten yang efeknya setara dengan dosis yang dikonsumsi. Penggunaan kokain juga dikaitkan dengan pertambahan berat janin yang buruk (LeBlanc dkk., 1987). Miller dkk. (1995) menyatakan bahwa hal tersebut mungkin lebih disebabkan oleh konsumsi rokok yang sering dan asuhan pranatal yang buruk daripada langsung disebabkan oleh kokain.

  • Penyakit Ginjal Kronis

          Penyakit ginjal dapat di­sertai oleh hambatan pertumbuhan janin (Cunningham dkk., 1990; Stettler dan Cunningham, 1992).

  • Penyakit Pembuluh Darah

          Penyakit vascular kronis, terutama bila kemudian dipersulit oleh preeklamsia superimposed, sering menyebabkan hambatan pertumbuhan. Preeklamsia sendiri dapat menyebabkan kegagalan pertumbuhan janin, teru­tama jika awitannya sebelum usia gestasi 37 minggu (Xiong dkk., 1999). Hambatan pertumbuhan janin pada pre­eklamsia adalah sebuah sebuah penanda kepa­rahannya.

  • Anemia

Pada kebanyakan kasus, anemia tidak menyebabkan hambatan pertumbuhan, ke­cuali pada penyakit sel sabit atau anemia herediter lain yang disertai penyakit serius pada ibu. Seba­liknya, kekurangan volume total darah ibu pada awal kehamilan telah menimbulkan hambatan pertumbuhan janin (Duvekot dkk., 1995).

  • Sindrom Antibodi Antifosfolipid

          Dua golongan antibodi antifosfolipid telah dikaitkan dengan pertumbuhan janin terhambat yaitu antibodi antikardioli­pin dan antikoagulan lupus (Lockwood dan Rand, 1994). Hasil kehamilan .pada wanita dengan antibodi ini sering buruk, dan mungkin juga menimbulkan preek­lamsia awitan dini dan kematian janin trimester kedua atau ketiga (Branch dkk., 1992). Morbiditas ibu akibat penyakit trombotik vaskular tidak jarang ditemukan. Mekanisme patofisiologis pada janin tampaknya disebabkan oleh agregasi trombosit pa­da ibu dan trombosis plasenta. Antibodi ini juga dapat dicurigai pada wanita yang mengalami kema­tian janin trimester kedua berulang atau pertum­buhan janin terhambat awitan dini, khususnya jika disertai oleh penyakit hipertensif berat dini.

  • Kehamilan Ekstrauterine

          Janin yang tumbuh di luar uterus biasanya mengalami hambatan pertum­buhan. Demikian juga, malformasi uterus ibu telah dikaitkan dengan gangguan per­tumbuhan janin.

2. Faktor Janin

  • Kehamilan Multiple

          Kehamilan dengan dua janin atau lebih lebih kemungkinan besar dipersulit oleh pertumbuhan kurang pada salah satu atau kedua janin dibanding dengan janin tunggal normal. Hambatan pertumbuhan dilaporkan terjadi pada 10 sampai 50 persen bayi kembar (Hill dkk., 1994).

  • Kelainan Plasenta dan Tali Pusat

          Pemisahan plasenta parsial kronis, infark luas, atau korioangioma kemungkinan menyebabkan hambatan pertumbuhan janin. Plasenta sirkumvalata atau plasenta previa dapat mengganggu pertumbuhan, tetapi biasanya janin tidak jauh lebih kecil daripada janin normal. Insersi marginal tali pusat dan khu­susnya insersi velamentosa lebih mungkin disertai gangguan pertumbuhan janin.

          Banyak kasus pertumbuhan janin terhambat terjadi pada kehamilan dengan janin yang tampak normal dan plasenta yang secara umum tampak normal. Kegagalan pertumbuhan pada kasus ini di­perkirakan sering disebabkan oleh insufisiensi uteroplasenta. Wanita yang mengandung janin yang mengalami hambatan pertumbuhan dan tidak dapat diterangkan penyebabnya menunjukkan penurunan aliran darah uteroplasenta empat kali lipat diban­ding dengan janin yang tumbuh normal (Lunell dan Nylund, 1992). Penurunan serupa juga ditemukan pada janin yang terhambat pertumbuhannya akibat malformasi kongenital sehingga mengesankan bah­wa aliran darah ibu sebagian mungkin diatur oleh janin (Howard, 1987; Rankin dan McLaughlin, 1979). Aliran darah uteroplasenta juga menurun pa­da wanita yang mengalami preeklampsia dibanding dengan wanita normotensif. Yang menarik, bayi­bayi makrosomik tidak mengalami peningkatan aliran darah uteroplasenta (Lunell dan Nylund, 1992).

  • Hipoksia Kronis

          Jika terpajan pada lingkungan yang hipoksik secara kronis, beberapa janin mengalami penurunan berat badan yang signifikan. Janin dari wanita yang tinggal di dataran tinggi biasanya mempunyai berat badan lebih rendah daripada mereka yang dilahir­kan oleh ibu yang tinggal di dataran rendah. Lichty dkk. (1957) melaporkan rerata perbedaan 250 g antara bayi yang dilahirkan oleh wanita Peru pada ketinggian di atas 10.000 kaki dan yang dilahirkan pada ketinggian permukaan laut. Janin dari wanita yang menderita penyakit jantung sianotik seringkali mengalami hambatan pertumbuhan yang berat (Patton dkk., 1990)

  • Infeksi Janin

          Infeksi virus, bakteri, protozoa, dan spiroket dianggap menjadi penyebab 5 persen kasus pertumbuhan janin terhambat (Klein dan Remington, 1995). Yang paling terkenal adalah infeksi yang di­sebabkan oleh rubela dan sitomegalovirus (Lin dan Evans, 1984; Stagno dkk., 1977). Mekanisme yang mengganggu pertumbuhan janin tampaknya berbe­da pada kedua infeksi virus ini. Sitomegalovirus dikaitkan dengan sitolisis langsung dan kehilangan sel-sel fungsional. Infeksi rubela menyebabkan insufisiensi vaskular dengan merusak endotelium pembuluh darah kecil. Laju pembelahan sel juga menurun pada infeksi rubela kongenital (Pollack dan Divon, 1992). Hepatitis A dan B menyebabkan pela­hiran preterm, tetapi juga dapat menimbulkan efek simpang pada pertumbuhan janin (Waterson, 1979). Listeriosis, tuberkulosis, dan sifilis telah dilaporkan menyebabkan hambatan pertumbuhan janin. Seba­liknya, pada kasus sifilis, plasenta hampir selalu bertambah berat dan ukurannya akibat edema dan peradangan perivaskular (Varner dan Galask, 1984). Toksoplasmosis adalah infeksi protozoa yang paling sering menimbulkan gangguan pertumbuhan janin, tetapi malaria kongenital dapat menimbulkan akibat yang sama (Varner dan Galask, 1984).

  • Malforasi Konginetal

          Dalam sebuah studi terhadap 13.000 bayi dengan anomali struktural mayor, 22 persen disertai oleh hambatan pertum­buhan (Khoury dkk., 1988). Secara umum, semakin berat malformasinya, semakin mungkin bayi tersebut kecil-untuk-masa kehamilannya. Hal ini sangat jelas pada janin yang mengalami abnormalitas kromosom atau malformasi kardiovaskular yang serius.

  • Kelainan Kromosom

          Plasenta janin dengan trisomi autosomal mempunyai jumlah arteri kecil berotot yang lebih sedikit di batang vili tersiernya (Rochelson dkk., 1990). Jadi, baik insufisiensi pla­senta maupun pertumbuhan dan diferensiasi sel ab­normal primer mungkin berperan menyebabkan hambatan pertumbuhan janin dengan derajat sig­nifikan yang sering disertai kelainan kariotipe. Dalam sebuah seri penelitian yang melibatkan 458 janin tanpa anomali struktural pada pemeriksaan sonografi, Snijders dkk. (1993) menemukan abnor­malitas kariotipe sebanyak 20 persen. Bila ada gang­guan pertumbuhan dan anomali janin, prevalensi kelainan kromosom bahkan lebih besar lagi.

          Meskipun kegagalan pertumbuhan pascalahir menonjol pada anak-anak dengan trisomi 21, gang­guan pertumbuhan janin umumnya ringan (Thelander dan Pryor, 1966). Bahkan rerata berat lahir mereka adalah 2900 g. Oleh beberapa peneliti, telah diamati adanya kesenjangan panjang ubun-­ubun-bokong trimester pertama yang signifikan pada janin dengan trisomi 21. Tetapi hal ini tidak ditemui oleh peneliti lain (Golbus 1978; Stephens dan Shepard, 1980). Setelah trimester pertama, panjang semua tulang panjang pada janin dengan trisomi 21 lebih pendek daripada janin normal (Fitzsimmons dkk., 1990). Panjang femur yang me­mendek dan hipoplasia falangs tengah tercatat meningkat frekuensinya pada trisomi 21.

          Berlawanan dengan gangguan pertumbuhan ringan dan bervariasi yang menyertai trisomi 21, janin dengan trisomi 18 hampir selalu mengalami gangguan yang signifikan. Dalam satu serf pene­litian neonatus dengan trisomi 18, 10 di antara 11 bayi mempunyai berat kurang dari 2500 g saat lahir (Moerman dkk., 1982). Kegagalan pertumbuhan te­lah ditemukan sejak trimester pertama. Pada trimes­ter kedua, ukuran tulang panjang biasanya turun di bawah persentil ketiga untuk umumya, dan ekstremi­tas atas mengalami gangguan lebih parah daripada ekstremitas bawah (Droste dkk., 1990). Pertumbuh­an organ viseral pada kondisi ini juga abnormal (Droste, 1992). Hambatan pertumbuhan dalam dera­jat tertentu juga sering ditemukan pada janin trisomi 13, tetapi umumnya tidak seberat trisomi 18.

          Pertumbuhan janin terhambat bermakna tidak ditemukan pada sindrom Turner (45, X atau disge­nesis gonad) atau sindrom Klinefelter (47, XXY) (Droste, 1992).

  • Trisonomi 16

          Trisomi 16 adalah trisomi yang paling sering ditemukan pada abortus spontan dan hampir selalu, letal bagi janin dalam keadaan nonmosaik (Lindor dkk., 1993). Bercak-bercak trisomi 16 di plasenta di­sebut mosaikisme plasenta berbatas tegas—menye­babkan insufisiensi plasenta yang mungkin menye­babkan banyak kasus gangguan pertumbuhan janin yang sebelumnya tidak dapat diterangkan (Kalousek dkk., 1993). Pada kehamilan-kehamilan ini, kelainan kromosom terbatas di plasenta. Wolstenholme (1995) telah mengulas makna mosaikisme plasenta trisomi 16 sejak gametogenesis sampai aterm

  • Kelainan pada Kartilago dan Tulang

          Berbagai sindrom herediter seperti osteogenesis imper­fecta dan berbagai jenis kondrodistrofi menyertai gangguan pertumbuhan janin.

 

Hipertensi

Hipertensi didefinisikan sebagai suatu peningkatan abnormal tekanan arteri secara nyata (Brashers, 2006). Tujuan pengontrolan darah adalah untuk memberikan adanya aliran darah yang konstan pada organ-organ vital. Tanpa aliran darah yang konstan ini, kehidupan akan selalu terancam. Lebih lanjut, peningkatan tekanan darah/hipertensi secara terus menerus akan menyebabkan efek-efek pengrusakan pada jantung, ginjal, dan pembuluh darah. Hipertensi ini merupakan salah satu faktor yang ikut berperan dalam terjadinya disabilitas dini (Mattson Porth, 2004).

Pengukuran tekanan darah

Pengukuran tekanan darah menggunakan alat yang disebut spignomanometer. Lengan atas dibalut dengan selembar kantong karet yang dapat digelembungkan, yang tebungkus dalam ebuah manset dan yang digandengkan dengan sebuah pompa dan manometer. Dengan memompa maka tekanan dalam kantong karet cepat naik sampai 200 mmHg yang cukup untuk menjepit sama sekali arteri brakhial, sehingga tidak ada darah yang dapat lewat, dan denyut nadi pergelangan menghilang. Kemudian tekanan diturunkan sampai suatu titik dimana denyut dapat dirasakan atau lebih tepat jika dengan menggunakan stetoskop denyut arteri brakhialispada lekukan siku dengan jelas dapat didengar. Pada titik tekanan ini tekanan yang tampak pada kolom air raksa dalam manometer dianggap tekanan sistolik. Kemudian tekanan di atas arteri brakhialis perlahan dikurangi sampai bunti jantung atau pukulan denyut arteri dengan jelas dapat didengar atau dirasakan. Dan titik dimana bunyi ulai menghilang umumnya dianggap tekanan diastolik.

KONTRASEPSI ORAL PIL

Pil Kombinasi

Saat ini lebih dari 60 juta jiwa wanita di seluruh dunia menggunakan kontrasepsi oral. Di banyak Negara, pil adalah bentuk kontrasepsi reversible yang terpopuler selama dua decade terakhir. Di Negara maju, pengguna pil telah mencapai kira-kira 24 juta wanita menikah, atau 14% dari wanita menikah dengan usia produktif. Di Negara berkembang lebih dari 38 juta wanita saat ini menggunakan pil, atau kira-kira 6% dari wanita usia produktif. Di Indonesia, 15% wanita yang berstatus menikah menggunakan pil KB.

Pil kombinasi adalah tablet-tablet kecil yang berisi 2 jenis hormone sintetik: estrogen dan progestin, hal ini serupa dengan hormon-hormon yang secara alamiah terdapat di dalam tubuh. Pil ini mencegah kehamilan dengan menekan ovulasi, mencegah implantasi dan dengan cara mengentalkan lender serviks sehingga hanya sedikit sperma yang dapat melaluinya.

Biasanya kemasan pil kombinasi terdiri dari 28 tablet, dimana 7 tablet diantaranya adalah placebo yang artinya tidak berisi hormone. Sebagai gantinya pil tersebut berisi zat besi atau suatu zat inert. Fungsi ke-7 pil tersebut adalah membantu klien untuk membiasakan diri minum pil setiap hari.

  • Pil adalah metode kontrasepsi yang mengandung hormone steroid yakni estrogen dan progesterone sintetis.
  • Biasanya terdiri dari 28 tablet, 7 dari pil-pil tersebut bersifat placebo dan pil yang lain mengandung hormon steroid.
  • Mekanisme kerja melalui :

   a. Penekanan ovulasi dengan cara penekanan perkembangan folikel

   b. Adanya progesterone menyebabkan pengentalan lender serviks.

   c. Mencegah implantasi.

  • Efektifitas

Jika menggunakannya benar maka efektifitas pil mencapai 99,9%

  • Efek Samping

Dalam 3 siklus pemakaian pertama dapat terjadi:

  1. Mual
  2. Rasa tidak enak di payudara
  3. Pusing
  4. Sakit kepala
  5. Penambahan berat badan
  6. Jerawat
  • Keuntungan
  1. Efektifitas tinggi
  2. Risiko terhadap kesehatan rendah
  3. Tidak memerlukan pemeriksaan dalam untuk memulai penggunaannya.
  4. Tidak mengganggu hubungan seksual
  5. Mudah digunakan
  • Kerugian
  1. Memerlukan motivasi pemakai.
  2. Tidak mencegah penyakit menular seksual (PMS)
  3. Beberapa efek samping yang jarang terjadi: Amenorea mual, rasa tidak enak di paayudara, sakit kepala, mengurangi air susu ibu (ASI), menambah berat badan, pusing, perubahan “mood”.
  • Manfaat Kesehatan
  1. Darah haid lebih sedikit
  2. Mengurangi sindroma prahaid
  3. Dapat mengurangi nyeri haid
  4. Menurunkan kemungkinan beberapa penyakit keganasan.

Kehamilan Tidak Diinginkan

Kehamilan yang tidak diinginkan (KTD) adalah suatu kehamilan yang karena suatu sebab, maka keberadaannya tidak diinginkan oleh salah satu atau kedua calon orang tua bayi tersebut. KTD disebabkan oleh faktor kurangnya pengetahuan yang lengkap dan benar mengenai proses terjadinya kehamilan dan metode pencegahan kehamilan akibat terjadinya tindak perkosaan dan kegagalan alat kontrasepsi.

Penyebab Kehamilan Tidak Diinginkan

                Idealnya, kehamilan terjadi karena memang diharapkan oleh pasangan. Pada kenyataanya, kehamilan dapat terjadi diluar rencana dan harapan perempuan, diantaranya terjadi karena :

  • Ibu yang menderita penyakit tertentu
  • Bayi diduga akan lahir cacat
  • Indikasi psikologis, seperti depresi berat, ada konflik batin atau ketakutan
  • Kehamilan Usia Dini

     Kehamilan pada usia dini, di bawah 19 tahun tentu saja berisiko. Remaja yang hamil, apalagi bila kehamilan tersebut tidak diinginkan, secara psikologis belum matang, berakibat perawatan diri dan kehamilan tidak optimal.  Kehamilan remaja meningkatkan risiko lahir mati, kelahiran kurang bulan (premature), bayi berat lahir rendah, risiko keracunan kehamilan (preeklamsia) 50% lebih tinggi, dan yang pasti mengurangi kesempatan si ibu mendapatkan pendidikan dan pekerjaan.

     Kehamilan usia dini, selain berakibat kurang baik bagi tubuh, juga berakibat hilangnya kesempatan untuk mendapat pendidikan formal. Padahal, pendidikan formal yang baik merupakan salah satu syarat (meskipun tidak harus) agar dapat bersaing di masa depan. Alangkah baiknya jika sekolah-sekolah tetap mau menerima siswa yang hamil, atau minimalnya memberikan cuti, bukannya mengeluarkan. Alangkah malangnya siswa yang hamil/menghamili, yang telah mengalami berbagai masalah yang berat, harus diperberat masalahnya dengan ‘ditutup’ masa depannya melalui pengeluaran siswa oleh pihak sekolah.

     Begitu besarnya kasus kehamilan di luar nikah dikalangan remaja, yang tidak saja merugikan remaja itu sendiri tapi juga masyarakat karena kehilangan remaja-remaja potensialnya.

Disamping itu terdapat beberapa resiko medis akibat dari kehamilan pada usia dini, diantaranya :

  1. Rahim (uterus) baru siap melakukan fungsinya setelah umur 20 th, karena baru pada usia ini fungsi hormonal melewati masa kerjanya yang maksimal.
  2. Sistem hormonal belum stabil maka terjadi ketidakteraturnya menstruasi hal yang sama terjadi bila remaja tersebut tersebut mengalami kehamilan ketidakteraturan tersebut membuat kehamilan menjadi tidak stabil, mudah terjadi perdarahan, terjadilah abortus atau kematian janin.
  3. Terlalu dininya usia kehamilan dan persalinan memperpanjang kehamilan rentang reproduksi aktif. Hal ini akan meningkatkan resiko timbulnya kanker leher rahim dikemudian hari.
  4. Lebih cenderung mengakibatkan anemia.
  5. Kehamilan remaja, pada usia 16 tahun jarang menghasilkan bayi yang sehat.
  6. Remaja yang hamil lebih sering keracunan kehamilan seperti mual muntah yang hebat, TD tinggi, kejang-kejang bahkan kematian.
  • Korban perkosaan atau incest

     Perkosaan merupakan peristiwa yang traumatis dan meninggalkan aib pada perempuan yang di perkosa. Dampak psikologis dari perkosaan ini cukup dalam dan akan menetap seumur hidup perempuan itu. Paham tentang kesucian perempuan akan membuat  perempuan dan keluarganya mengalami stigma dari masyarakat sekitarnya. Perempuan korban perkosaan akan di cap “Tidak suci” lagi sehingga mungkin akan sulit memperoleh jodohnya, sementara laki-laki yang memperkosanya tidak banyak mengalami kutukan sosial seperti itu.

     Jika perkosan juga mengakibatkan kehamilan, aib itu tidak hanya akan di alami oleh si korban saja teapi juga seluruh keluarganya. Seandainya kehamilan itu diteruskan, maka anak yang dilahirkan kelak yang akan mengalami tekanan sosial baik dari keluarga orangtuanya sendiri maupun masyarakat sekitarnya, bahkan ibunya sendiri mungkin akan meliha anak itu sebagai penjelmaan laki-laki yang memerkosanya dan selalu akan mengingatkannya kepada laki-laki itu, atau mungkon juga menjadi sasaran balas dendam yang sebenarnya ia tujukan kepada laki-laki yang memperkosanya.

  • Kehamilan diluar nikah

     Menurut para ahli, alasan seorang remaja melakukan hubungan seks diluar nikah ini terbagi dalam beberapa faktor sebagai berikut:

  1. Tekanan yang datang dari teman pergaulannya
  2. Adanya tekanan dari pacarnya
  3. Adanya kebutuhan badaniah
  4. Rasa penasaran
  5. Pelampiasan diri
  6. Kegagalan alat KB

     Kasus kehamilan yang tidak diinginkan juga salah satunya dikarenakan kegagalan alat kontrasepsi. Para pemakai kontrasepsi pada dasarnya belum atau tidak ingin hamil lagi, sehingga dapat dikatakan bahwa kegagalan kontrasepsi mengakibatkan kehamilan yang sebenarnya tidak diinginkan. Sebagian dari mereka mungkin ingin untuk meneruskan kehamilannya, sebagian yang lain mungkin memutuskan untuk menggugurkannya. Jumlah kehamilan yang tidak diinginkan akan lebih besar lagi, jika di tambah dengan mereka yang tidak ingin hamil lagi tetapi tidak menggunakan kontrasepsi sama sekali.

Dampak yang Timbul

       Unwanted pregnancy selalu berkaitan erat dengan praktek pengguguran kandungan yang tidak aman (unsafe abortion).  Wanita yang tidak menginginkan kehamilan tentu akan berusaha untuk menggugurkan kandungannya. Seribu satu alasan dikemukakan untuk membujuk tenaga medis mau menggugurkan kehamilannya, mulai masih sekolah, belum punya pekerjaan tetap, anak sebelumnya masih kecil, jarak operasi sesar sebelumnya terlalu dekat, sudah banyak anak, usia sudah tua dan lain-lain.

       Lebih sialnya wanita-wanita tersebut kebanyakan harus menghadapi sendiri sakit dan kebingungan. Gadis-gadis hamil stres ditinggal pacarnya yang tidak bertanggung jawab. Ibu-ibu kesal saat disalahkan suaminya kenapa bisa hamil. Padahal, kehamilan tidak mungkin terjadi kalau bukan ‘perbuatan’ kedua belah pihak. Kondisi ini sering menyebabkan kebingungan, bisa berujung putus asa.

       Angka kehamilan yang tidak diinginkan akibat kegagalan KB masih cukup tinggi, dan 30–50% diantaranya menjalani aborsi tidak aman. Kondisi ini turut menyumbang tingginya kematian ibu hamil di Indonesia, yaitu 450 dari 100.000 kelahiran hidup, masih menjadi yang tertinggi di Asia. Pada tahun 2001 PKBI menangani 6000 kasus, 80 persen diantaranya adalah kehamilan tak diinginkan oleh pasangan yang sudah menikah. Ini menandakan KTD sudah menjadi masalah sosial. Apabila fenomena gunung es juga berlaku untuk kasus KTD maka jumlah KTD keseluruhan akan menjadi berlipat. Sangat logis apabila diperkirakan bahwa jumlah aborsi di Indonesia adalah 2,5 juta sampai dengan 3 juta per tahunnya.

       Sekitar 2 juta wanita di Indonesia setiap tahun menjalani aborsi. Dari jumlah tersebut ada sekitar 900 wanita yang melakukan aborsi yang tidak aman. Sementara itu untuk tindakan aborsi di seluruh dunia tercatat 46 juta dengan 20 juta diantaranya merupakan aborsi tidak aman. Aborsi tidak aman ini dilakukan oleh tukang urut, dukun pijat, dukun beranak yang sangat berbahaya karena penolongnya tidak terlatih atau berkompeten, dilakukan di tempat yang tidak higienis, peralatan medis tidak tersedia dan tidak memenuhi standar minimal, serta metode atau prosedur tindakan aborsi yang dilakukan sangat berbahaya dan tidak dapat dipertanggungjawabkan secara medis. Akibatnya adalah kematian wanita akan menjadi salah satu risiko yang didapat dari tindakan aborsi tidak aman tersebut.

Penanganan KTD

       Betapapun rumitnya permasalahan unwanted pregnancy dan unsafe abortion, namun bukan berarti melegalkan pengguguran kandungan. Kasus yang sudah terlanjur terjadi diupayakan penyelesaiannya, bukan dengan pengguguran kandungan. Tentu saja menuntut upaya banyak pihak untuk mendukung wanita korban unwanted pregnancy.

       Kalangan yang terkait kebijakan di bidang kesehatan harus menaruh perhatian pada besarnya masalah unwanted pregnancy dengan melakukan upaya nyata untuk menghindari kekerasan seksual terhadap wanita, mengetahui secara komprehensif dan mampu melakukan pengendalian status dan masalah reproduksi di masyarakat.

       Keluarga harus diberi pengertian bahwa ada lembaga-lembaga yang mau menerima dan membantu para wanita (terutama kasus kehamilan remaja) selama mereka hamil dan melahirkan. Bagaimanapun usaha prevensi adalah lebih baik. Peningkatan pemahaman kesehatan reproduksi, pemenuhan hak kesehatan reproduksi bagi para wanita, hak atas kehidupan seksual yang aman, hak untuk mendapatkan informasi dan akses pelayanan kontrasepsi, juga layanan kesehatan baik kehamilan maupun persalinan yang aman.

       Selain itu diperlukan pendidikan seks yang bijak di lingkup keluarga, sekolah, dan masyarakat mutlak diperlukan. Penyebaran pengetahuan dan menggiatkan penggunaan kontrasepsi harus ditanamkan kepada pasangan yang belum menghendaki kehamilan.

       Upaya konseling yang bermutu dan pembekalan metode serta materi konseling kepada petugas kesehatan dan tokoh masyarakat sangat dibutuhkan agar dapat dipilih sikap yang terbaik bila berhadapan dengan kasus unwanted pregnancy.

Pencegahan KTD

  1. Cara yang paling efektif adalah tidak melakukan hubungan seksual sebelum nikah.
  2. Memanfaatkan waktu luang dengan melakukan kegiatan positif seperti OR, seni dan keagamaan.
  3. Hindari perbuatan-perbuatan yang akan menumbulkan dorongan seksual, seperti meraba-raba tubuh pasangannya dan menonton video porno.
  4. Memperoleh informasi tentang manfaat dan penggunaan alat-alat kontrasepsi.
  5. Mendapatkan keterangan tentang kegagalan alat kontrasepsi dan cara penggunaanya.
  6. Untuk pasangan remaja yang sudah menikah sebaiknya memakai cara KB yang kegagalannya rendah seperti sterilisasi, susuk KB, IUD, Suntikan.

Sumber:

Dianawati, Ajen. 2003. Pendidikan Seks untuk Remaja. Jakarta : Kawan Pustaka

Mohamad, Dr. Kartono. 1998. Kontraindikasi dalam Kesehatan Reproduksi. Jakarta : Pustaka Sinar Harapan

Widyantoro, Ninuk. 2009. Memahami Seksualitas dan Kesehatan Reproduksi Remaja. Jakarta : Yayasan Pendidikan Kesehatan Perempuan

http://smartpsikologi.blogspot.com/2007/08/kehamilan-tak-diinginkan.html

http://pkbi.or.id/index.php?option=com_frontpage&Itemid=1

Endometritis

Endometritis

Mordibilitas pascapartum akibat demam atau febris didefiniskan sebagai kondisi ketika suhu lebih dari 38°C atau lebih tinggi pada hari ke-2 hingga hari ke-10 pasca persalinan (Bowes, 1996). Diperkirakan 2% pasien yang mengalami persalinan pervaginam dan 10-15% yang mengalami persaslinan caesar menderita endometritis yang biasanya disebabkan oleh infeksi asenden dari saluran genitalia bawah.

1.  Pengertian

1)    Endometritis adalah infeksi pada endometrium (lapisan dari rahim). Infeksi ini dapat terjadi sebagai kelanjutan infeksi pada serviks atau infeksi tersendiri dan terdapat benda asing dalam rahim. (Manuaba)

2)    Endometritis adalah infeksi endometrium, desidua, dan miometrium uterus setelah pelahiran. (obstetri williams)

3)    Endometritis adalah suatu peradangan endometrium yang biasanya disebabkan oleh infeksi bakteri pada jaringan. (Kapita Selekta)

 

2.  Faktor Risiko Endometritis

Faktor risiko endometritis meliputi ruptur membran yang lama, persalinan yang memanjang, pemeriksaan dalam, persalinan dengan pembedahan, atau dengan alat bantu yang lainnya, preeklampsia, retensi bagian plasenta yang tertinggal, perdarahan, pascapartum dan anemia.

3.  Patofisiologi

Bakteri yang sering menyebabkan infeksi genitalia wanita pascapartum

 

Aerob

          Streptokokus grup A, B, dan D

          Enterokokus

          Bakteri gram-negatif-Escheichia coli, Klebsiella, dan spesies Proteus

          Staphylococcus aureus

          Gardnerella vaginalis

Anaerob

          Spesies peptokokus

          Spesies peptosteptokokus

          Golongan Bacteroides fragilis

          Spesies klostridium

          Spesies fusobakterium

          Spesies Mobiluncus

Lain-lain

          Spesies Mycoplasma

          Chlamydia trachomatis

          Neisseria gonorrhoeae

Sumber: Data dari American College of Obstetricians and Gynecologists: Antimicrobial therapy for obstetric patiens. Educational Bulletin No. 245, Maret 1998.

Organismee ini secara normal mengkoloni serviks, vagina, perineum, dan saluran cerna. Meskipun virulensinya rendah, namun berbagai bakteri ini menjadi patogenik jika terdapat jaringan yang mengalami devitalisasi dan hematom yang pasti ada dalam persalinan. Infeksi pascapartum bersifat polimikroba (biasanya dua hingga spesies) dan terjadi di tempat insisi atau implantasi plasenta.

Rahim merupakan organ yang steril sedangkan di vagina terdapat banyak mikroorganismee oportunistik. Mikroorganisme dari vagina ini dapat secara asenden masuk ke rahim terutama pada saat perkawinan atau melahirkan. Bila jumlah mikroorganismee terlalu banyak dan kondisi rahim mengalami gangguan maka dapat terjadi endometritis. Kejadian endometritis kemungkinan besar terjadi pada saat kawin suntik atau penanganan kelahiran yang kurang higienis, sehingga banyak bakteri yang masuk.

 

4.    Diagnosis

Gejala endometritis antara lain; demam dan kedinginan, malaise dan nyeri abdomen. Tandanya meliputi demam, uterus lunak, rabas vagina yang purulen, dan lokia rubra yang parah. Jika terdapat organisme anaerob dan bentuk coli, lokia akan berbau tidak sedap. Infeksi disebabkan oleh Streptokokus beta-hemolitik, lokia tidak berbau dan sedikit. Subinvolusi hampir selalu dihubungkan dengan endometritis.

 

5.    Manajemen Kebidanan

 Subjektif

1)    Klien mengeluh nyeri perut dan punggung bagian bawah

2)    Peningkatan suhu postpartum yang sebelumnya didahului oleh perubahan konstitusional (malaise, anorexia, myalgia, diaphoresis, atau menggigil)

3)    Klien mengeluh adanya :

  • Pengeluaran lochea yang banyak dan berbau busuk
  • konstipasi
  • Klien menyangkal adanya disuria, poliuria atau nyeri panggul.

Objektif

1)    Suhu >38°C, 2 hari pertama dalam 10 hari postpartum, tidak termasuk 24 jam pertama.

2)    Peningkatan nadi atau nadi normal

3)    Observasi diaporesis/menggigil jika terjadi infeksi virulent

4)    Nyeri pada perut atau mungkin tegang

5)    Pengeluaran yang abnormal mungkin terlihat di genitalia external, rongga vagina dan serviks.

Catatan: mungkin hanya sedikit, bau lochea mungkin tercium (akibat adanya infeksi beta-hemolytic streptokokus)

6)    Nyeri /kontraksi di uterus/adnexa atau mungkin uterus yang lembek dan/atau subinvolusi ketika dilakukan pemeriksaan bimanual

7)    Ruam otot dan hipotensi (menandakan adanya postpartum toxic  shock syndrom [TSS])

8)    Kelumpuhan ileus mungkin sering terjadi ( tanda timbulnya distensi abdomen, bising usus yang lemah dan konstipasi)

9)    Sebaliknya pemeriksaan fisik dinyatakan negatif untuk tanda infeksi lokal atau penyakit sistemik

10) Penghitungan darah komplit (CBC) mungkin menunjukan adanya leukositosis

Catatan: Leukositosis mungkin muncul (penghitungan sel darah putih sampai dengan 20.000 m3) tanpa adanya infeksi selama periode postpartum yang normal. (Faro, 1990).

11) Urin dipstick negatif untuk ester leukosit, nitrit; dibutuhkan kateterisasi untuk mengambil sampel lochea.

Analisa

Postpartum endometritis, dini atau lanjut

Diagnosa banding

1)    Cystitis

2)    Pyelonefritis

3)    Mastitis

4)    Pembengkakan payudara (engorgement) yang berat

5)    Appendisitis

6)    Infeksi luka seksio sesarean

7)    Septic pelvic Thrombophlebitis

8)    Abses pada pelvik

9)    Toxic shock syndrome (TSS)

10) Ileus paralitik

11) Komplikasi pada sistem respirasi, pulmonary atelectasis

12) Thrombophlebitis pada ekstremitas bawah

Perencanaan

1)  Lakukan pemeriksaan spekulum steril

  1. Observasi ciri dan bau lokia
  2. Dapatkan kultur serviks bila perlu dan singkirkan dugaan IMS

2)  Lakukan pemeriksaan bimanual steril

  1. Kaji uterus untuk memeriksa adanya nyeri tekan yang tidak biasa
  2. Kaji uterus untuk mengetahui adanya penonjolan

3)  Lakukan analisa darah lengkap bila terjadi demam

4)  Antibiotika dan drainase yang memadai merupakan pojok sasaran terapi. Evaluasi klinis dan organisme yang terlihat pada pewarnaan gram, seperti juga pengetahuan bakteri yang diisolasi dari infeksi serupa sebelumnya, memberikan petunjuk untuk terapi antibiotic.

  • Chepalexin 500 mg peroral 4 kali sehari selama 7 sampai 10 hari
  • Ampisilin 500 mg peroral 4 kali ssehari selama 7 sampai 10 hari
  • Doksisiklin 100 mg peroral 4 kali sehari 7 sampai hari
  • CATATAN: Penggunaan doycycline pada wanita menyusui adalah kontroversial, namun harus mendapat perhatian lebih.
  • Eritromisin 500 mg peroral 4 kali sehari selama 7 sampai 10 hari
  • Klindamisin 450 mg peroral 4 kali sehari selama 7 sampai 10 hari

5)  Carian intravena dan elektrolit

Merupakan terapi pengganti untuk dehidrasi dan terapi pemeliharaan untuk pasien-pasien yang tidak mampu mentoleransi makanan lewat mulut. Secepat mungkin pasien diberikan diet peroral untuk memberikan nutrisi yang memadai.

6)  Penggantian darah

Dapat diindikasikan untuk anemia berat post abortus atau postpartum.

7)  Tirah baring dan analgesia

Merupakan terapi pendukung yang banyak manfaatnya.

8)  Tindakan bedah

Endometritis postpartum sering disertai dengan jaringan plasenta yang tertahan atau obstruksi servik. Drainase lokia yang memadai sangat penting. Jaringan plasenta yang tertinggal dikeluarkan dengan kuretase perlahan dan hati-hati.

Tindak lanjut

1)    Jika gejala memburuk atau gagal untuk merespon, segera nilai kembali.

2)    Jika respon gejala  yang memadai dan kepatuhan pasien yang baik, menilai kembali dalam 48 sampai 72 jam.

3)    mendokumentasikan diagnosis dan pengobatan endometritis dalam catatan kemajuan dan daftar masalah.